Minggu, 22 Mei 2016

Kenapa? Untuk Apa?

"Tak ada yang kebetulan di ini" kata-kata dari Abah Rama ini terngiang-ngiang sepanjang saya memikirkan tugas kedua di Matrikulasi Institut Ibu Profesional. "Membangun Peradaban Dari Rumah" demikianlah judul dari materi ini.
Bisa dibilang, ini adalah kali ketiga kami bersinggungan dengan kata 'Misi Keluarga'. Saya masih ingat kali pertamanya adalah bersama Abah Rama yang benar-benar membuka mata tentang pengertian 'misi'. Misi adalah tujuan hidup kita di dunia. Misi ini diberikan oleh Allah SWT, karena Allah-lah yang menciptakan kita di dunia ini. Bersama dengan penciptaan kita, Allah juga menciptakan berbagai perbekalan yang akan mendukung misi hidup kita di dunia. Potensi atau bakat adalah salah satunya.
Kali kedua persinggungan kami dengan misi keluarga adalah saat mengikuti School for Homeschool Facilitator. Di sini, Pak Dodik menjelaskan pentingnya misi dan visi keluarga. Jika misi diberikan langsung oleh Allah, visi ditetapkan oleh masing-masing keluarga. Visi terbaik adalah yang sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT. Visi yang sejalan dengan misi akan membuat jalan hidup keluarga terasa mudah dan menyenangkan.
Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional menjadi kali ketiga persinggungan kami dengan misi keluarga. Kali ini perumusan visi dan misi keluarga menjadi lebih gamblang. Semua dimulai dari mengenali dan memahami potensi masing-masing anggota keluarga. Apa potensi saya? Apa potensi suami? Kenapa Allah mempertemukan saya yang memiliki potensi begini dengan suami yang memiliki potensi begitu? Apa hasil sinergi kami yang membantu kami menjalani misi hidup kami masing-masing dan mendukung misi terbentuknya keluarga ini?
Kenapa Allah mempertemukan kami dan membimbing kami membentuk keluarga? Apa peran yang disiapkan Allah untuk kami ambil sebagai bagian dari bangunan peradaban manusia?
Rentetan pertanyaan yang membutuhkan waktu lama untuk meraih jawaban. Sepekan rasanya tak cukup, apalagi hanya satu jam duduk berdua, bicara dengan suami.
Saya dan suami memiliki potensi yang sama dalam hal kepemimpinan, namun di ranah yang berbeda. Suami memiliki kekuatan sebagai seorang Commander sedangkan saya adalah Arranger. Dari sini terlihat sinergi kami. Saya berperan sebagai penatalaksana sementara suami mengambil peran sebagai penentu kebijakan dan pengambil keputusan. Dalam hal kepemimpinan, saya melihat hal yang mirip pada NoFail dan Raysa. NoFail kerap sebagai Commander dan Raysa menjadi Arranger handal, mungkin mereka berdua meniru gaya kepemimpinan kami.
Potensi saya lainnya adalah Ideation. Saya hadir dalam keluarga sebagai pembawa ide-ide baru kegiatan kami. Kekuatan ini juga dimiliki NoFail, Ideation yang tinggi perlu diasah agar lebih tajam. Kekuatan Raysa yang lain adalah Empathy. Dia sangat perhatian akan kebutuhan orang lain dan selalu siap sedia menolong tanpa disuruh.
Semua potensi telah dipetakan. Tiba waktunya meletakkan semua potensi itu dalam konteks waktu dan tempat. Kenapa kami sekeluarga, dengan potensi-potensi sedemikian rupa, ditempatkan Allah disini sekarang ini?
Alhamdulillah, memang kami rasakan, keluarga kami makin berkembang setelah tinggal di Cilebut ini. Perumahan ini bukanlah tempat yang ideal memang. Tentu saja banyak kekurangan disana sini. Namun sebagai keluarga, saya merasa kami semakin baik dalam banyak hal hanya dalam waktu 4 tahun tinggal disini. Banyak kesempatan belajar yang kami raih, banyak kesempatan bertemu dengan komunitas yang menaikkan level diri. Seolah Allah sedang membimbing kami menuju suatu tempat yang sudah disiapkan. Itulah yang saya rasakan.
Kami tinggal di lingkungan yang umumnya didiami oleh pasangan muda dengan anak-anak yang relatif seusia dengan anak-anak kami. Ini merupakan potensi pertama yang saya amati. Saya melihat pada potensi anak saya, NoFail. Dia seorang Commander yang penuh ide. Di antara teman-temannya, dia sudah berkali-kali menjadi pemimpin yang melontarkan ide-ide untuk kegiatan bermain bersama. Saya mulai melihat kesempatan untuk mengasah potensi kepemimpinannya dan menjadi orang yang memberi warna serta manfaat bagi teman-temannya. Mungkin ini adalah misi hidup yang digariskan Allah untuknya dan tinggal disini adalah kawah candradimuka untuk mengasah kemampuannya.
Saya pun melihat hal yang sama pada diri Raysa. Bedanya, pada Raysa potensinya di bidang seni-lah yang diasah disini. Kebetulan sekali di dekat tempat tinggal kami berdiri sekolah tari dan musik yang sudah berpengalaman di bidang ini. Ayodyapala, nama sekolah ini, sudah berdiri sejak tahun 80-an dan memiliki beragam prestasi tingkat nasional. Disinilah Raysa mengasah potensi fisiknya sebagai penari.
Sejauh ini, saya baru melihat lingkungan tempat tinggal kami sebagai tempat belajar dalam mempersiapkan diri dan keluarga untuk memberi manfaat yang lebih luas lagi bagi peradaban manusia. Semoga Allah ridhai perjalanan keluarga ini dalam menggapai ridha-Nya, aamiin.

Selasa, 12 Januari 2016

Novel Sang Arranger

Hari ini Novel memutuskan untuk resign dari pekerjaan menyapu dan mengepel. Kedua pekerjaan itu didelegasikan kepada Kakak Raysa. Novel memilih merapikan rumah, membersihkan kamar mandi, dan menjemur pakaian.
Baiklah, mungkin kita butuh penyegaran.
Jadilah, hari ini Raysa magang menyapu dan mengepel. Ibu dan Eyang yang menjadi supervisornya. Sementara Novel merapikan rumah sendiri. Ia sudah memahami bagaimana cara merapikan barang-barang dan menyusunnya hingga terlihat sedap dipandang mata.
Hasilnya menakjubkan. Kabel-kabel yang berseliweran menjadi terlihat ringkas dan resik. Tempat tidur Dede Aida pun jadi terkesan luas karena Novel berhasil menyusun barang-barang yang bertebaran. Meja buku Novel dan Raysa pun terlihat sedap dipandang, bukan lagi berantakan.
Aih! Luar biasa sekali hasilnya hari ini. Saya sebagai ibunya hanya bisa takjub, benar-benar tak menyangka. Tadinya saya kira potensi kepemimpinan Novel hanya 'command'. Hari ini ia menunjukkan potensinya yang lain, 'arranger'.
Sekali lagi saya 'dijitak', tampaknya sudah lama saya tidak 'memperhatikan'.

Jumat, 08 Januari 2016

Dede Jadi Kakak

"De, handuknya tolong langsung dijemur, ya," aku mengingatkan Raysa.
Raysa diam saja, seperti tidak mendengar. "De, tolong handuknya," aku mengulangi sepotong saja, yakin Raysa hanya pura-pura tak mendengar. "De, ibu didenger ngga?" ini ketiga kalinya dan ajaib, Raysa langsung mendongak. "Handuk siapa?" tanyanya spontan. Aku tersenyum menarik napas, "Maaf, Kakak, tolong handuknya langsung dijemur."
Setelah 6 tahun menjadi bungsu, sekarang Raysa sudah punya adik. Dia tak mau lagi dipanggil 'Dek'. Sekarang Raysa adalah 'Kakak'.
Menjadi 'Kakak' berarti punya tanggungjawab terhadap adiknya. Raysa senang sekali menjadi penjaga adiknya. Ia akan bernyanyi untuk adiknya, mengajaknya bicara, bahkan muroja'ah di hadapan adiknya. Untuk urusan momong, Raysa sedikit demi sedikit sudah berevolusi menjadi ahli.
Yang susah 'move on' itu ayah ibunya. Masih saja menganggap Raysa sebagai 'puteri kecilnya'. "Aku udah jadi 'Kakak', Ibu."

Kamis, 07 Januari 2016

Diet TV

"Anak-anak kalo belajar di sini?" tanya seorang teman yang datang bertandang. Dia tahu kami melaksanakan homeschooling, alias belajar di rumah. Keheranannya muncul ketika mengetahui kami belajar di depan TV yang mati, "Ngga terganggu, ya, konsentrasinya?"
"Ngga, kita udah sepakat soal waktu nonton TV," aku menjawab ringan.
Di rumah kami TV hanya menyala 2-3 jam perhari. Awalnya saya pun tidak percaya diri untuk melepaskan anak dari TV, mungkinkah?
Ternyata mungkin. TV baru boleh dinyalakan setelah semua pekerjaan selesai. Lalu selama waktu belajar, TV harus dimatikan. Akhirnya kotak hitam itu baru dinyalakan lagi setelah shalat zhuhur hingga waktu tidur siang. Sore hari, setelah bangun tidur hingga maghrib. Sedangkan malam hari, waktu menonton adalah selepas shalat isya hingga waktu tidur malam.
Jika sedang bersemangat menggarap proyeknya, anak-anak malah lupa untuk menyalakan TV. Jadilah Novel sibuk menggambar, Raysa sibuk bercerita, dan kotak hitam itu pun terabaikan.
Yah, ternyata bisa saja hidup tanpa menyalakan TV seharian. 

Anak dan Gadget

Apa manfaat laptop? Tanyakan pertanyaan ini pada generasi kita, para orangtua yang dibesarkan tahun 90-an, generasi terakhir yang masih main bentengan di halaman rumah. Jawabannya bisa bermacam-macam. Untuk menulis laporan, untuk menganalisis data, untuk menulis skripsi, dan banyak lagi. Tanyakan pertanyaan ini pada generasi anak-anak kita, generasi yang dibesarkan dalam pesatnya revolusi teknologi informasi. Jawabannya bisa jadi seragam, buat ngegame atau nonton video.
Jangan salahkan mereka. Game dan video adalah dua fitur yang pertama kali kita kenalkan pada mereka. Mereka dibesarkan dengan dua fitur ini. Banyak orangtua yang dengan sengaja mengunduh berbagai video anak untuk dipertontonkan pada mereka sejak masih balita. Game-game edukatif yang bertebaran juga sangat menggoda untuk diinstal dan diajarkan pada anak.
Jangan salahkan mereka. Fitur game mungkin juga fitur yang paling sering digunakan kedua orangtuanya, di ponsel atau di laptop. Wajar bukan jika mereka juga akhirnya mengambil kesimpulan bahwa laptop atau ponsel gunanya untuk main.
Sekarang bertebaran informasi mengenai bahaya gadget untuk anak. Dengan informasi ini, diharapkan orangtua sadar dan menjauhkan gadget dari anak-anak mereka. Tapi saya ragu, ini akan berhasil.
Yang jadi masalah bukan anaknya, tapi orangtuanya. Bagaimana anak akan melepaskan gadget dari tangan mereka jika orangtua sudah tak bisa jauh-jauh dari gadget?
Jadi, menurut saya, yang pertama harus berubah adalah orangtuanya. Orangtua harus mampu menjauhkan gadget dari tangan saat bersama anak-anak. Mendengarkan anak-anak dan ikut bermain bersama mereka. Saya kira, hanya dengan cara ini, anak-anak dapat menjauhkan dirinya dari berbagai gadget.

Selasa, 05 Januari 2016

Keluargaku



Memandang kertas putih itu sangat menyebalkan! Ah! Kenapa harus ada tugas Bahasa Indonesia? Rasanya ingin menghantamkan kepala ke tembok itu. Kepalaku pusing memikirkan kata-kata. Bagaimana harus memulai sebuah karangan?
Aku menarik napas. Kulihat Mama membetulkan letak kacamatanya sambil memperhatikan layar ponsel. Setiap saat, hanya itu yang Mama lakukan. Matanya hanya beralih dari layar ponsel ke layar laptop lalu layar ponsel lagi dan kemudian laptop lagi. Kapan mata Mama beralih padaku?
Kertas putih di hadapanku masih kosong. Ups! Salah! Aku tahu sekarang, apa yang harus kutulis. ‘Keluargaku’, tema tugas kali ini bisa kujadikan judul, setidaknya mengurangi intimidasi dari kertas putih. Tapi, apa yang harus kutulis tentang ‘keluargaku’?
Mama masih memegang ponsel. Sekarang matanya menekuri layar laptop. Jarinya mahir bermain di atas keyboard. Aku menahan napas, hanya Mama keluarga yang kupunya. Mungkin, sebaiknya aku menuliskan tentang Mama saja?
Papaku entah dimana. Mama bilang, dia pergi tapi sampai sekarang tak pernah kembali. Kukira Papa sudah mati, tapi Mama tak pernah mau menunjukkan kuburnya berapa kali pun aku meminta. Setidaknya, dia sudah mati dalam kehidupanku. Jadi, biarlah kukeluarkan Papa dari daftar ‘keluargaku’.
Tinggal Mama, satu-satunya yang ada dalam daftar keluarga. Tapi, rasanya Mama pun sudah tak ada. Dia selalu duduk di sana, di balik meja kerjanya. Berkutat dengan kertas-kertas nota dan layar-layar berpendar. Sesekali ia pindah untuk mengemas barang. Pebisnis online memang tak perlu toko, cukup ponsel, laptop, dan barang. Kurasa aku pun sudah ‘mati’ dalam kehidupan Mama. Aku melirik kalender meja di hadapan, kapan terakhir kali bicara dengan Mama, ya?
Apa keluarga namanya jika kami tak pernah saling bicara? Bertatapan mata pun aku sudah lupa rasanya. Apa keluarga namanya jika aku tak pernah bertatapan mata dengan Mama?
“Miaw!” Catie datang menghampiriku.
“Hai, Catie!” kuraih ia masuk dalam pelukanku, “kemana aja kamu? Kok baru pulang?”
“Miaw!” Catie menggosokkan kupingnya ke daguku.
“Ih, geli, ah!” Kutatap mata Catie. Dia balas menatapku, tersenyum padaku.
Aku tahu sekarang! Akan kutulis tentang Catie. Satu-satunya keluargaku.

Senin, 04 Januari 2016

Mengulum Tangan

Pasti pernah, dong, melihat bayi menghisap jari jemarinya? Reaksi para ibu pastilah akan mengeluarkan jari-jari bayinya secepat kilat. Saya pun akan melakukan hal yang sama. Jari bayi belum tentu bersih. Bisa jadi ada bakteri di sana, nanti kena penyakit menular, dan seterusnya kekhawatiran normal semua ibu.
Sampai suatu hari ketika bayi Aida yang baru berusia 2 bulan menghisap jari-jarinya. Saya melihat sesuatu yang lain. Aida begitu kesulitan membawa jari-jari mungilnya itu tepat ke mulut. Kadang melenceng ke pipi, kadang meleset ke mata. Tampaknya butuh perjuangan hebat demi memasukkan jari ke mulut.
Awalnya, bukan jari yang masuk, tapi punggung tangan. Tahap kedua buku-buku jari berhasil dihisap. Selanjutnya baru telunjuk masuk ke dalam mulut. Luar biasa, bukan, perjuangan bayi 2 bulan ini?
Saya percaya bahwa tiap tahap perkembangan bayi merupakan pondasi untuk melaju ke tahap berikutnya. Begitu pula tahapan menghisap jari ini. Apakah yang dipelajari bayi dari aktivitas ini? Pertanyaan ini begitu mengusik hingga saya membayangkan diri saya sendiri melakukannya.
Saya teringat salah satu artikel yang mengatakan bahwa masa 0-7tahun kehidupan adalah waktunya bagi anak untuk memetakan seluruh anggota tubuhnya. Mungkin inilah yang dilakukan bayi dengan mengulum tangannya. Otaknya sedang memetakan tangan. Mulut adalah organ sensori yang paling awal aktif. Di mulut bayi merasakan sentuhan puting susu ibunya juga mencicipi rasa susu dari ibunya. Berdasarkan pengalaman sensori mulut, otak memetakan tangan dan menjadikannya organ sensori baru.
Gerakan tangan ke mulut juga membutuhkan koordinasi. Di usia 2,5 bulan, Aida melihat tangannya sendiri dan mengikuti gerakan tangan dengan matanya. Ia mulai melakukan koordinasi antara mata, tangan, dan mulut. Aktivitas ini sangat dibutuhkan nantinya untuk membawa masuk makanan ke dalam mulut. Wow! Saya nyaris berteriak ketika menyadari ini.
Yang terjadi selanjutnya adalah dilema. Apakah saya akan membiarkan Aida merasakan sensasi tangan di mulut atau mengeluarkan tangannya dari mulut? 

Jumat, 27 Maret 2015

FAQ Homeschooling

Ini pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya tentang homeschooling (padahal saya juga bukan master homeschooling...xixixixi)

1.Gimana caranya memulai homeschooling? 
Sebenarnya saya tidak bisa menjawab. Kalau diingat-ingat lagi bagaimana caranya saya memulai, rasanya hanya dijalani saja. Ketika kami sepakat untuk menarik Novel dari sekolah dan memulai homeschooling, kami bertanya pada Novel apakah dia mau? Tentu saja dengan menceritakan bagaimana homeschooling itu. Apa kelebihan dan kekurangannya. Ketika Novel setuju, baru deh diproses dengan pihak sekolah.

2. Trus nanti ijazahnya gimana?
Sebenarnya ngga terlalu mikirin ijazah juga. Kalau nanti diperlukan, ya kita cari ijazah, kalo ngga, ya ngga usah, hehehe..... Misalnya, nih, nanti Novel ternyata mau jadi dokter, ya sudah, kita cari ijazah supaya bisa kuliah kedokteran. Kalo mau jadi dokter di Indonesia, yang punya surat ijin praktik kan ngga bisa cuma magang sama dokter ahli yang udah master di bidangnya. 
Kalau ternyata, Raysa, mau jadi penari, misalnya, ngga perlu ijazah banget kan....karena seorang penari tidak dilihat dari ijazahnya, melainkan dari kemampuannya menari.

3. Trus sosialisasinya gimana?
Ini pertanyaan yang membingungkan saya. Soal sosialisasi adalah bagaimana seseorang bisa berperan di masyarakat. Apa hubungannya dengan sekolah di rumah atau di lembaga formal? Sejauh ini Novel dan Raysa punya banyak teman, tidak kesulitan beradaptasi dengan sahabat-sahabat baru. Bahkan Raysa selalu mendapatkan teman baru di setiap tempat baru.

4. Gimana ngatur waktunya?
Memang agak tricky yang satu ini. Kami pun berproses hingga mendapatkan cara terbaik mengatur waktu. Kami membagi waktu menjadi waktu bebas, waktu belajar (terstruktur), dan waktu PR. Waktu PR (pekerjaan rumah) adalah waktu yang digunakan untuk beberes rumah dan berkebun (dua tugas rumah Novel saat ini) sementara Raysa belum punya tanggung jawab yang saklek karena umurnya baru 5 tahun. Waktu belajar terstruktur adalah waktu yang digunakan untuk belajar dengan panduan. Waktu bebas adalah waktu yang bisa dia gunakan untuk apa pun. Bisa untuk eksperimen, cooking class, mengerjakan soal, menonton televisi, main bersama teman, main game.

5. Kurikulumnya gimana?
Tadinya saya saklek menggunakan kurikulum diknas. Tapi tampaknya tidak efektif hingga saya banting stir. Yang penting anaknya belajar satu hal dalam satu hari. Jadi ketika dia sedang tertarik pada semut, kami mempelajari semut sampai detil, seharian, bahkan waktu bebas pun digunakan untuk belajar. Ketika sedang tertarik pada awan, kami mempelajari awan hingga Novel sempat menjadi peramal cuaca amatiran.
Sementara untuk Raysa, semua dalam kerangka bermain. Saat dia sedang tertarik pada urusan dandan, maka dia bermain menjadi make up artist. Raysa jadi make up artist, saya menjadi artisnya, hehehehe....Ketika dia sedang suka menulis, kami main surat-suratan. Ketika dia sedang suka menyanyi, saya menjadi camera person yang bertugas merekam nyanyiannya. Saya benar-benar hanya mengikuti kesukaannya.
Sebenarnya saya mengikuti kerangka kerja pendidikan berbasis potensi:
1. Fitrah Keimanan
Setiap anak lahir dalam keadaan telah tertanam potensi fitrah keimanan, setiap kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb (Khaliqan, Raziqan, Malikan)
2. Fitrah Belajar
Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat sejati. Intellectual curiousity, creative imagination, art of discovery, dan noble attitude
3. Fitrah Bakat
Setiap anak adalah unik, masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya yang akan membawanya pada peran spesifik peradaban.


Selasa, 04 November 2014

Thomas Alva Edison


Thomas Alva Edison adalah seorang ilmuwan hebat dan terkenal sampai sekarang. Ialah yang menemukan lampu. Ia sosok ilmuwan yang tak gampang menyerah. Sewaktu kecil ia disekolahkan oleh ibunya. Belum lama ia sekolah, ia tidak diterima karena dianggap tidak punya bakat. Akhirnya ibunyalah yang mengajari ia. Ia pernah mengamati bagaimana cara induk ayam mengerami telurnya. Lalu ia melakukan hal yang sama yaitu mengerami telur ayam. Akan tetapi telur ayam itu tidak menetas. Ia pun bertanya kepada ibunya mengapa telur ayam itu tidak menetas. Ibunya pun menjawab bahwa yang bisa mengerami telur ayam itu sampai menetas  ialah induk ayam. Dari kejadian itulah Thomas sering mengamati suatu kejadian yang akhirnya membuatnya menjadi ilmuwan yang amat hebat lagi terkenal. Thomas juga sering mengalami kegagalan salah satunya ialah kejadian yang membuat laboratoriumnya yang ia bangun di gerbong kereta api hangus terbakar dan masih banyak lagi begitulah perjuangan Thomas Alva Edison


TAMAT

Rabu, 16 Juli 2014

Peringatan: Jangan Makan Apa Pun Tanpa Bertanya!

Sejak Novel mulai belajar di rumah, ia pun mulai melaksanakan kesenangannya mencoba-coba. Percobaan pertamanya adalah membuat es batu. Maksudnya benar-benar membekukan batu. Batu-batu dikumpulkan dalam wadah es krim, diisi air lalu dibekukan. "Airnya membeku, Bu, tapi batunya ngga berubah," begitu hasilnya. Tentu saja, namanya juga batu.
Kemudian ia memasukkan telur mentah ke dalam toples berisi air dan minyak. Toples beserta isinya kemudian dimasukkan ke dalam freezer. Hasilnya, pasti beku. Tapi ada yang berbeda di permukaan. Di permukaan toples ada lapisan putih. Tadinya aku mengira itu minyak, tapi lapisan itu lama sekali mencairnya dan menyambung ke bagian beku berwarna kuning di dekat telur. Tampaknya telur yang dimasukkan ke dalam toples sempat pecah sebelum beku. Mungkin air di sekitarnya lebih dulu beku hingga menekan kulit telur sampai retak. Putih telur merembes keluar dan naik ke permukaan lalu membeku paling akhir. Saat dicairkan di bawah panas matahari pun, putih telur ini adalah bagian yang paling akhir mencair.
Cairan Baltador
Percobaan selanjutnya yang dimasukkan ke dalam kulkas adalah Cairan Baltador, Novel sendiri yang meciptakan namanya, tak tahu apa artinya. Cairan Baltador adalah campuran antara minyak, air, parfum, sabun, garam, gula, dan bawang. Mula-mula diletakkan di bagian bawah lalu dipindah ke freezer. Jika kita mencoba mencium baunya, mula-mula tercium bau harum, mungkin dari parfum, lalu bau tidak enak yang mungkin berasal dari bawang.
Jadi peringatan bagi yang membuka kulkas: Jangan Makan Apa Pun Tanpa Bertanya!!!

Selasa, 15 Juli 2014

suwain

aku    suka    makan   nasi   di  suwapin

Khan Academy

mengerjakan soal tetap pakai pencil n paper
Novel sedang sangat bersemangat belajar di Khan Academy. Mungkin karena bakat competitive-nya mendapat penyaluran di sini, sehingga ia bersedia menyediakan waktu untuk menyelesaikan soal-soal yang diajukan oleh Khan. Di Khan Academy, setiap aktivitas yang kita lakukan mendapatkan lencana. Bahkan aktivitas yang tidak memerlukan banyak berpikir pun, seperti menonton video dihargai sebagai satu progress dan mendapatkan lencana. Jumlah poin yang didapatkan menentukan avatar yang bisa digunakan. Prinsip gamification seperti ini membuat Novel sangat semangat belajar.
Khan Academy sebenarnya menyediakan banyak sarana belajar dalam berbagai subjek. Ada Matematika, Sains, Seni, Ekonomi dan Keuangan, juga bagian khusus untuk belajar programming. Namun untuk anak seusia Novel yang hampir tidak bisa Bahasa Inggris, tampaknya hanya matematika yang paling cocok.
Subjek selain matematika menggunakan video sebagai sarana belajarnya. Beberapa disertai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahaman tentang materi yang disampaikan dalam video, beberapa lainnya tidak. Sebenarnya Khan Academy sudah menyediakan video berbahasa Indonesia, namun sayangnya  video-video ini tidak termasuk ke dalam video yang bisa memberikan lencana. Sementara menonton video saja sudah mendapatkan poin di sini. Ini menjadi alasan mengapa Novel malas menonton video dalam Bahasa Indonesia.
Untuk menonton video, Novel harus didampingi karena kemampuan Bahasa Inggrisnya yang kurang. Konsekuensinya, aku pun harus menghentikan video sejenak untuk menjelaskan apa yang baru saja kami tonton. Namun beberapa video sama sekali tanpa kata-kata, hanya gambar yang kuat, yang mampu menjelaskan materinya. Misalnya video tentang pembuatan magnet. Video ini tanpa kata-kata, hanya saja, pertanyaan yang mengiringi video ini dibuat dalam bahasa Inggris sehingga tetap saja Novel perlu didampingi penerjemah.
Bahasa menjadi satu-satunya kelemahan di Khan Academy. Akibatnya semangat belajar Novel terbentur kendala bahasa. Sepertinya penguasaan bahasa Inggris menjadi urgent agar dapat lebih leluasa menjelajahi sumber belajar di dunia....
Bagi yang ingin ikut mencoba silakan ke http://www.khanacademy.org
Buat akun untuk orangtua terlebih dahulu kemudian buat akun untuk anak-anak....have fun learning...

Nyanyian Burung Di Muka Rumah

Belajar Berhitung Dengan Burung
Beberapa hari tidak turun hujan, pohon ceri pun berkesempatan membuat bunga menjadi buah. Burung-burung pun berdatangan untuk mencicipinya. "Ibu! Burungnya!" Raysa berseru menunjuk ke jendela.
Jarang kami melihat burung-burung gereja berbaris begitu banyak di kabel listrik. Suara nyanyian mereka riuh seperti saling memanggil mengabarkan makanan melimpah di sini.
"Coba, Dek, ada berapa itu burungnya?" daripada menghitung gambar burung di buku, menghitung burung yang sesungguhnya pasti lebih seru.
Raysa mulai berhitung, "17!" serunya.
"Tambah satu!" seru Novel, "jadi 18."
"Tuh di sebelah situ masih ada," kata Ibu.
"19!" Raysa melanjutkan hitungan.
"Kurang satu," kata Novel, "jadi 18 lagi."
"Kurang satu lagi," Novel menunjuk seekor burung yang terbang meninggalkan kabel, "jadi 17."
Alam takambang jadi guru (alam membentang menjadi guru) benar-benar filosofi yang luar biasa. Alam menyediakan semua yang kita butuhkan untuk belajar, termasuk belajar berhitung...

Rabu, 09 Juli 2014

Mengamati Ceri

Belajar di Pohon Ceri, Why Not?
'Keahlian mengamati' adalah salah satu sarana yang diperlukan dalam melakukan penalaran tingkat tinggi. Banyak penemuan besar dunia berawal dari pengamatan terhadap kondisi diri maupun lingkungan. Yang paling terkenal mungkin adalah pengamatan Newton terhadap apel yang selalu jatuh ke bawah. Pengamatan yang mengantarkan Newton pada rumusan teori gravitasi.
Menurut Tricia Armstrong dalam bukunya 'The Whole Brain Solution' kemampuan ini dapat dilatihkan. Ia menyusun beberapa kertas kerja dan latihan-latihan untuk mengasah keahlian mengamati ini. Sayangnya pelatihan ini ditujukan untuk siswa kelas 6-12.
Serius Amat?
Namun menurut Charlotte Mason, pakar pendidikan, pengamatan menjadi alat utama dalam belajar. Ia memasukkan unsur pengamatan dalam semua mata pelajaran yang dipelajari siswa. Menurut Mason, hasil pengamatan ini dapat dituangkan dalam bentuk apa pun. Gambar, tulisan, maupun cerita lisan dapat menjadi cara menceritakan hasil pengamatan ini.
Nulis Apa Ya?
Kali ini Novel dan Ghazan mencoba mengamati pohon ceri. Awalnya Ghazan ingin mengamati dari bawah pohon ceri, namun kemudian ia merasa memanjat pohon ceri lebih menyenangkan. Namun Ghazan masih takut-takut hingga Novel akhirnya memanjat lebih dulu.
Di atas pohon ceri mereka bisa melihat seperti apa daun ceri sesungguhnya. Mereka bisa melihat bunga ceri dari dekat. Merasakan kulit kayunya langsung di kulit. Dan duduk di atas dahan ceri, sungguh nikmaaattt....
Di atas pohon cerilah mereka menuliskan hasil pengamatannya, langsung.
Di mana lagi tempat terbaik mengamati pohon ceri jika bukan di atas pohon ceri...? ;-)


Kamis, 16 Mei 2013

The World of Raysa

Raysa bukan anak visual. Dia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan stimulus-stimulus visual. Tapi dia anak kinestetik yang selalu tertarik melakukan eksperimen.

Kamera menjadi sarana belajar Raysa yang menarik. Dia bisa belajar melatih keahlian pengamatannya (observational skill) dengan kamera. Kamera mengakomodasi gairah kinestetik Raysa untuk bergerak dan memanfaatkan alat. Ia cepat sekali mempelajari penggunaan kamera. Ditambah lagi dengan kemudahan teknologi digital yang membuat penggunaan kamera menjadi semakin mudah.
Beyond the Yellow

Kebanyakan Raysa menggunakan kamera nyaris asal pencet. Awalnya ia membutuhkan berkali-kali menekan tombol sebelum gambarnya benar-benar terekam. Ini mungkin karena jari-jarinya yang memang belum terlalu kuat untuk melakukan pemotretan dengan kamera saku.

Di kali yang lain ia memotret sambil berputar-putar sehingga gambar yang terekam menjadi blur dan tidak jelas apa yang sebenarnya ingin dipotret. Beberapa hasilnya menjadi bagus seperti yang satu ini. Di sini terlihat gambar tangan di balik bias warna kuning. Tangan adalah salah satu objek favorit Raysa. Banyak sekali fotonya yang memuat tangan sebagai fokusnya.
Benang-benang Sembunyi

Kamera membantu kita dalam melakukan pengamatan terhadap detil. Banyak dari foto-foto karya Raysa memperlihatkan detil ini. Seperti foto di samping kiri ini yang memperlihatkan detil benang-benang sarung bantal kursi.

Di Balik Jeruji
Di kali lain Raysa menghalangi lensa dengan benda lain sehingga hasil jepretannya memberikan sensasi seperi mengintip. Berbagai benda pernah digunakan Raysa untuk menghalangi lensa, mulai dari tangannya sendiri, hingga sisir. Gambar di samping diambil dengan menghalangi lensa dengan sisir. Hasilnya sangat menarik, detil motif sajadah dengan bias jeruji hijau yang cantik.

Go Diego Go!
Objek-objek bidikan Raysa biasanya adalah benda-benda favoritnya atau hal-hal yang menarik baginya. Kaki, tangan, ayah, laptop adalah sebagian objek favoritnya. Buku cerita favoritnya pun termasuk dalam kategori ini. Di gambar ini Raysa mengabadikan buku cerita Diego kesukaannya. Dia menjepret buku ini berkali-kali dan inilah satu jepretan terbaiknya.

Princess of Rock
Sebenarnya tak banyak bidikan Raysa yang benar-benar fokus membidik satu benda secara utuh. Kebanyakan ia membidik detil-detil dari suatu benda. Saat di Kebun Raya Bogor Raysa berhasil membidik ibu dengan cukup fokus hingga hasilnya pun tak terlalu buruk. dua foto ini menjadi jepretan terbaik Raysa di Kebun Raya Bogor.

Under Diego Tree
Bunting
Saat kucing peliharaan Novel bunting, puting susunya pun menjadi pusat minat Raysa. Ia menyadari ada kesamaan antara puting susu kucing dengan dadanya sendiri. Ia menyebutnya dada kucing, walaupun secara anatomis sebenarnya  puting susu ini terletak di perut kucing bukan di dadanya, hehehe....

Memang membiarkan balita memainkan barang-barang elektronik akan menuai risiko kerusakan. Kamera saku kami pun beberapa kali sudah mengalami error yang membuatnya tidak dapat menyala. Lensanya tak dapat terbuka sehingga kamera pun tak dapat digunakan.

Tapi hasil jepretan Raysa berhasil menunjukkan perkembangan dalam kemampuan menggunakan kamera sebagai alat memotret. Begitu pula kemampuan pengamatannya. Dan hasil jepretannya juga memberikan informasi untuk lebih mengenal dunia di mata Raysa.

Yeah...teruslah memotret Raysa....melihat dunia melalui lensa...:-)


Selasa, 07 Mei 2013

Raysa Belajar Berhitung

Belajar berhitung sejatinya adalah mempelajari urutan. Mengurutkan bisa dimulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Belajar berhitung juga belajar membandingkan, mana yang lebih besar, mana yang lebih kecil.


Raysa si pembelajar auditorik. Ia belajar dari suara-suara yang ia dengar, dari percakapan yang ia simak, juga dari lagu-lagu yang terdengar. Selain auditorik ia juga seorang kinestetik. Ia mudah sekali menirukan gerakan tarian hanya dengan sekali melihatnya. Saat melihat gerakan, matanya nyaris tak berkedip. Setelah selesai ia akan mulai menirukan bagian yang ia ingat. Tak heran perbendaharaan gerakannya sudah lumayan banyak saat usianya belum lagi 4 tahun.

Dengan memanfaatkan dua modalitas belajarnya ini, aku mengajaknya bernyanyi 1,2,3 untuk berkenalan dengan angka. Liriknya sangat sederhana, hanya 1, 2, 3, 4, 5 lalu diulang berkali-kali hingga ia hafal urutannya. Selain menyanyikannya, aku pun memperagakannya dengan gerakan tangan sehingga lengkaplah ia memanfaatkan kedua modalitas belajarnya sekaligus.

Video ini diambil kurang lebih sepekan setelah Raysa belajar lagunya


Setelah ia berhasil menghafalkan 1-5, kemudian berlanjut 6-10. Masih dengan nada yang sama dan ditambah gerakan tangan. Alhamdulillah, dengan cara ini Raysa tidak butuh lama menghafalkan urutannya.

Sebelumnya Raysa sudah mengenal angka. Namun ia masih kebolak-balik dalam mengurutkannya. Bisa jadi setelah 3 langsung loncat ke 7 atau 6. Angka kesukaannya adalah tujuh, angka ini tak pernah lepas jika ia berhitung kebolak-balik. Dengan mengurutkan melalui lagu, Raysa menjadi terbiasa dengan urutannya.

Selanjutnya di Bimba, Raysa mengaitkan angka dengan simbolnya. Menghitung berurutan lalu mengaitkannya dengan simbol angkanya. Sekarang di Bimba pun Raysa sudah naik ke level berhitung 0-10.

Yeah.. maju terus Raysa...

Sabtu, 04 Mei 2013

Beach Pool....Rekreasi Keluarga Murah Meriah

 Sekali lagi ke Taman Impian Jaya Ancol. Kali ini karena terbatasnya waktu, kami hanya singgah ke Beach Pool di Ancol. Kami sampai di sana ketika matahari sedang panas-panasnya. Jam makan siang pastinya, karena perut kami sudah mulai minta di isi. Sayang sekali, kami sama sekali tidak bawa bekal, padahal Beach Pool tempat yang asyik banget buat piknik keluarga.

mari main pasir...
Waktu nyampe di Beach Pool...penuh sesak! Pantainya ruaaaammeeee banget penuh dengan orang-orang yang piknik. Mereka ada yang bawa tiker sendiri ato nyewa tiker di sana. Kayanya nikmat banget makan bareng dirayu angin pantai...aiiihhh..padahal makannya cuma pake kering tempe atau mendoan...,"Sayang ya mah kita ngga bawa makanan..."

Awalnya Raysa dan Novel hanya main pasir aja di pantai. Mereka sebenarnya ingin nyebur ke laut, tapi kami para mak-mak ini ngga bisa menemani. Ayah pun ngga mau kare ngga bawa baju ganti. Dengan muka agak cemberut Novel dan Raysa main pasir seadanya.

dayung....dayung...
Tapi memang Ayah adalah Ayah yang baik, yang selalu mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya, Ayah pun akhirnya mengalah. Ayah menyingsingkan celana panjangnya sampai lutut dan menyewa dua buah pelampung untuk Novel dan Raysa. Novel dan Raysa pun tiduran sambil mengambang di laut. "Gayung....gayung..." begitu Raysa bersenandung dengan riang. Maksudnya dayung-dayung, tapi pengucapan Raysa memang sering kebolak-balik konsonannya.

Ada sedikit insiden sih...mungkin karena badan Raysa masih kecil sedangkan ban pelampungnya lebih besar, akibatnya Raysa jatuh. Katanya matanya perih kena air laut. Akhirnya Raysa lebih dulu menepi. Novel menepi tak lama kemudian karena waktu sudah terlalu sore dan umi harus mengejar pesawat.


Novel senang sekali kali ini. Esoknya dia punya rencana baru, "Kita mo ngumpulin duit sampe banyak....jadi ntar kalo jalan-jalan ibu ngga usah keluar duit, pake duit kita aja." "Emang Novel mau kemana?" tanyaku. "Kita mau ke pantai lagi!" aku hanya tersenyum. Sebenarnya ke pantai lagi biayanya ngga gede-gede amat. Hanya biaya transpornya aja yang gede...secara Bogor-Ancol gitu loh...Tapi biaya masuk Ancolnya hanya 15ribu perorang, dan sewa bannya 6ribu perban....Aih..Novel baik hati banget ya....iya deh..kapan-kapan kita ke sini lagi ya....;-)

Jumat, 03 Mei 2013

PPIPTEK Taman Mini Indonesia Indah

Kalo mau ke Taman Mini ngga cukup sehari! Ya iyalah...secara Taman Mini itu luasnya berhektar-hektar! Plus buanyak banget museum dan tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Ada Taman Bunga, ada Taman Burung, berbagai macam museum yang semuanya menarik, dan puluhan anjungan propinsi yang lumayan bakal menguras energi kalau mau dijelajahi dalam sehari.

Lobby PPIPTEK
Karenanya hari Ahad itu kami memutuskan untuk mengunjungi PPIPTEK aja. Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan ini ternyata juga terlalu luas untuk bisa dijelajahi sehari itu. Kami sampai di sana sekitar pukul 11 siang. Di jam segitu semua acaranya sudah dimulai, jadi kami tidak akan kebagian melihat acara-acara peragaan yang banyak itu. Petugas tiket menyarankan agar kami datang lagi jam 1 siang.

Pipa Musik
Itu berarti 2 jam lagi...wah lama juga...mau sholat blom waktunya, mau makan siang masih belum cukup lapar....akhirnya kami main-main dulu di halaman PPIPTEK.

Di halaman PPIPTEK ini banyak juga alat-alat peraga sains. Ada pipa musik yang menggambarkan prinsip kerja alat musik yang memanfaatkan udara sebagai pembuat nada. Pipa musik ini terdiri dari deretan pipa berdiameter sekitar sejengkal yang disusun berurutan sesuai dengan panjangnya. Bagian atas pipa terlihat seperti cerobong asap yang menjadi bagian keluarnya suara. Sementara bagian bawah pipa melengkung ke atas dan mulut pipanya diberi lapisan karet. Bagian bawah pipa inilah yang dipukul-pukul dengan alat semacam bet pingpong sehingga mengeluarkan suara. Raysa asik sekali memainkannya, tau sendiri dia sangat tertarik dengan segala hal yang bersuara apalagi ditambah dengan gerakan-gerakan memukul-mukul, asli Raysa banget, bongbongbong!
Parabola Berbisik

Tak jauh dari pipa musik ada parabola berbisik. Parabola berbisik adalah dua buah marmer yang dibuat berbentuk parabola besar. Jika kita berbisik pada salah satu parabola, maka suara kita akan terdengar di parabola di seberangnya. Syaratnya, kita harus berbisik tepat di tengah parabola agar gelombang suaranya terkumpul dan terpantul sempurna. Sayangnya salah satu parabola tampak sudah retak, mungkin ini mengurangi efektivitas pemantulan suara. Jadinya kami tidak berbisik, tapi bersuara agak keras barulah terdengar seperti gema di parabola seberangnya.

Umi ditimbang dulu ya....
Di seberang parabola berbisik ada Timbangan Raksasa. Timbangan raksasa ini untuk memperagakan pengukuran berat tentunya, hehehe....Ada sebuah bangku di salah satu ujung timbangan dan alat ukurnya seperti timbangan beras yang ada di pasar. Umi kebagian duduk menjadi orang yang hendak ditimbang beratnya. Ayah menarik bandul timbangannya agar berada dalam posisi setimbang. Berapa ya berat Umi.....? Sudah lupa tuuuuuhhh.....;-)

Puter-puter
Selesai timbang menimbang, matahari sudah tinggi. Kami pun memutuskan untuk segera mencari makanan pengisi kampung tengah. Seperti biasa, yang paling sulit adalah Buya. Selera Buya ini susah susah gampang. Setelah berjalan sepanjang jalan kuliner, Buya pun akhirnya memutuskan di warung makan yang pertama kali kami datangi...hihihi..emang yah pengetahuan menyeluruh itu diperlukan sebelum mengambil keputusan akhir....

Tak jauh dari tempat kami makan ada persewaan motor APV (bener ngga sih ini namanya...?). Novel dan ayah naik APV itu untuk puter-puter di sekitar jalanan situ. Novel senang sekali, Raysa pun tak mau ketinggalan. Ketika Novel selesai, Raysa pun minta ditemani naik APV. Tapi hanya puter-puter di sirkuitnya aja. Kata ayah, "Panas, kita puter-puter di sini aja ya..." Kalo puter-puter di sirkuitnya itu bisa enam kali puteran, tapi kalo di jalanan hanya satu kali muter....hmmm..sebenernya enakan yang mana ya....

Selesai makan kami pun beranjak ke masjid. Kami sholat di Masjid Diponegoro yang berada di kompleks tempat ibadah. Sebenarnya masjid ini cukup luas, tapi hari itu banyak sekali pengunjungnya sehingga terasa sesak. Aku dan Raysa ngantri di kamar mandi. Di masjid ini disediakan dua buah WC dan satu kamar mandi. Sayangnya beberapa orang menggunakan WC untuk mandi, akibatnya antrian WC pun panjaaaaaaannnggg sekali. Kami mengantri selama hampir setengah jam, itu pun akhirnya Raysa pipis di kamar mandinya bukan di WC-nya. Berbeda dengan kamar mandinya yang sangat minim, kran berwudhunya banyak sekali dan sepertinya cukuplah untuk melayani pengunjung sebanyak itu. Tidak sampai terjadi antrian di kran berwudhu. Tapi bagian yang digunakan untuk sholat perempuan masih terasa sempit. Mungkin karena beberapa orang memanfaatkannya untuk tidur juga selain sholat. Akibatnya tempat sholat ini terasa pengap dengan jumlah pengunjung sebanyak itu.

Ternyata pengunjung hari itu tidak hanya dari seputaran Jabodetabek, tapi juga dari luar kota. Ada pengunjung dari Bandung, Cimahi, bahkan ada juga rombongan yang berasal dari Solo. Pantaslah Masjid Diponegoro hari itu terasa sesak.

Selesai menunaikan kewajiban sholat, kami pun segera beranjak ke PPIPTEK. Saat itu sudah pukul setengah dua, yah...peragaan IPTEK-nya sudah dimulai. Tapi petugas tiketnya menyarankan agar kami masuk saja ke ruangannya. Beneran! Ruangan peragaan IPTEK yang seperti bioskop kecil itu sudah penuh oleh anak-anak SD yang sedang field trip. Kami hanya sempat menyaksikan 2 macam peragaan sebelum berakhir.

Main Karet
Setelah peragaan berakhir, petugas meminta siswa salah satu SD untuk keluar dan meminta siswa SD lainnya untuk tinggal di tempat. Nah..berarti masih ada acara lagi nih. Acaranya ternyata adalah pemutaran film tentang energi dan asal-usulnya. Novel memutuskan untuk tinggal. Dia penasaran tentang filmnya. Novel duduk dengan Umi di tempat strategis dan aku duduk dengan Raysa di dekat pintu keluar.

Angklung Mekatronik
Aku tahu Raysa pasti akan bosan menonton film. Film ini didesain untuk anak-anak usia SD, bukan balita. belum setengah jam film diputar, Raysa sudah minta keluar. Kami pun keluar melihat bagian lain dari PPIPTEK.

Kami mulai menyusuri lorong yang bagian sisi dekat dindingnya di isi meja-meja peraga sains. Ada peraga tentang luas segitiga, gaya sentripetal, magnet, dan banyak lagi. Raysa mencobanya satu per satu. Di ujung lorong kami menemukan angklung mekatronik. Angklung yang bisa digerakkan dengan menekan tombol merah di bawahnya. Masing-masing tombol akan menggerakkan satu angklung. Raysa sudah pasti menyukai yang satu ini. Dia menekan tombolnya berulang kali. Mencoba semua nada dan semua tombol. Ada satu tombol yang bisa menyanyikan satu lagu. Ini sangat menyenangkan.
Raysa dan T-Rex

Raysa baru berhenti bermain ketika ada suara geraman besar. Raysa langsung berlari memeluk kakiku. Ia memang mudah ketakutan mendengar suara yang keras. Ternyata suara itu berasal dari patung T-Rex yang berdiri gagah di atrium. Tidak hanya menggeram, T-Rex itu juga bergerak. Lehernya bergerak-gerak dan matanya merah mengedip-ngedip. Raysa ketakutan hingga perlu digendong untuk melihatnya lebih dekat. Butuh beberapa waktu sebelum akhirnya Raysa merasa nyaman berada di dekat T-Rex. Alat peraga yang satu ini ternyata sedang dalam masa uji coba, jadi kami beruntung sekali bisa melihatnya bergerak...hehehe...

Pesawatku...
Setelah puas bercengkerama dengan T-Rex, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri lorong. Dinding lorong bagian ini dihiasi gambar para ilmuwan besar, Copernicus, Keppler, Newton, dan siapa lagi aku tak ingat. Di bawahnya ada meja-meja peraga lagi. Raysa pun mencobanya lagi satu per satu.

Kemudian kami sampai di bagian pesawat. Ada simulasi pesawat, dan ada juga pesawat yang bisa dinaiki di sini. Ada pipa yang menghembuskan udara. Raysa suka bagian pipa ini. Hembusannya yang kencang membuatnya penasaran.

Keluar dari bagian pesawat, kami masuk ke bagian visual. Ada mikroskop yang bisa digunakan untuk melihat benda di bawahnya. Ada juga bagian ilusi visual. Ruangan ilusi visual sengaja dibuat remang-remang agar ilusi bisa lebih terlihat nyata. Tapi Raysa tidak suka di bagian ini, mungkin karena suasana remang-remangnya membuat bulu kuduk berdiri. Emang agak serem sih masuk ke ruangan ini. Serasa masuk rumah hantu.

Raysa dan Teman-teman
Ilusi-ilusi visual di ruang ini kebanyakan sudah pernah aku lihat di bulu psikologi ketika membahas persepsi. Seperti ilusi warna yang bertukar, ilusi volume, atau ilusi  cahaya. Sayang ngga sempat melihat semuanya, Raysa benar-benar tidak nyaman di ruangan ini.

Raysa lebih suka di bagian cermin. Raysa masuk ke ruang cermin. Ruangan ini keseluruhan sisinya dipasangi cermin. Saat berdiri di sudut, pantulan cahaya terjadi berulang kali, "Raysa punya banyak teman." Dia tak bosan-bosan di ruangan ini. Berkali-kali becermin, bergaya...xixixi...emang dasar centil...


Di bagian dinding area visual ada balap lari. Kita ditantang untuk balap lari dengan cahaya. Raysa suka bagian berlarinya...tapi ia tak pernah menang..hehehe..ya iyalah...lawan cahaya gitu loh...
 
sky lift
Perjalanan hari itu diakhiri dengan naik sky lift. Ini permintaan Novel yang didukung oleh Raysa. Yang lama tuh...ngantrinyaaaaaaaa.....mungkin karena long weekend jadi ngantri panjaaaaaaaannnnggg banget! Begitu naik rasanya lega..... melihat rumah-rumah daerah dari 27 propinsi...blom nambah deh kayanya...

Hari sudah sore ketika kami berhasil mengitari Taman Mini dengan sky lift. Perjalanan dilanjutkan lagi...mungkin kapan-kapan kita akan lihat bagian lain dari Taman Mini...Insyaa Allah....

Rabu, 27 Maret 2013

Novel's Wishlist

Awalnya karena Novel terpaksa ikut ngajar ke NF. Ketika itu semester awal dan di setiap kelas yang dimasuki isi materinya sama: MOTIVASI. Di setiap kelas yang sama masuki saya selalu memutar video yang sama: Video 100 Keinginan-nya Danang Prabowo.

Saat video itu dibuat, Danang sedang menjalani masa studinya di salah satu universitas di Jepang. Ia menceritakan bahwa ia telah menuliskan semua keinginannya dalam dua lembar folio. Sejalan dengan berlalunya waktu, ia melihat bahwa satu persatu keinginannya terkabul. Tidak sekadar terkabul, bahkan Allah memberikan yang lebih baik dari apa yang diinginkannya.

Rupanya Novel sangat terinspirasi oleh video ini. Dia pun mulai menuliskan daftar keinginannya di selembar kertas di buku gambarnya. Daftar keinginannya itu dihiasi oleh gambar gunung, katanya itu karena ia mau mancapai cita-cita (jiaaahhh...sok filosofis ni anak).

Keinginannya susah-susah gampang mengabulkannya. Inilah daftar keinginan Novel:
1. Jago [maksudnya Novel ingin jadi anak yang hebat, jagoan]
2. Kreatif
3. Cerdas
4. Punya mobil sendiri
5. Pergi haji
6. Jadi manusia terpilih [maksudnya Novel ingin jadi seperti Nabi Muhammad]
7. Aku mau rumahku dipasang keramik
8. Ke Korea
9. Ke Taman Wisata Air Matahari
10. Jadi orang kaya
11. Ke Portugal
12. Nonton di bioskop
13. Ke Gunung Fuji
14. Ke hutan
15. Ke Prancis
16. Ikutan Sekolah Bola
17. Jadi ranking satu
18. Hapal 1 Alqur'an
19. Masuk surga
20. ke Italia
21. Anak pintar

Itulah 21 keinginan Novel. Ada 2 yang menurut Novel sudah tercapai: Ikutan sekolah bola karena ia sudah ikut ekskul futsal dan jadi anak pintar karena menurut Novel ia adalah anak pintar...hehehe

Semoga terwujud ya nak segala keinginanmu...semoga Allah memudahkanmu menggapai cita-citamu...amin