Rabu, 16 November 2011

Nur Rumaysa Majid

"Kok, Rumaysa? Artinya apa?" begitu komentar Buya sama Umi ketika pertama kali nama Raysa ditetapkan. Tidak banyak yang tahu siapa Rumaysa binti Mihal. Beliau adalah salah satu orang pertama yang memeluk Islam di Madinah, ketika itu namanya masih Yatsrib. Rumaysa binti Milhan juga termasuk salah satu dari mereka yang mengikuti Bai'at al-Aqabah yang pertama.

Ketika itu putera beliau, Anas masih kecil. Rumaysa binti Milhan mengajari puteranya kalimat tauhid yang kemudian memancing kemarahan sang ayah, Malik ibn al-Nadr. Namun Rumaysa ra tak bergeming, "Aku akan terus mengajarkan kebenaran pada anakku," kurang lebih begitulah kata-katanya.

Setelah menjanda, ia menolak semua lamaran yang datang untuk mempersuntingnya. Hingga akhirnya Abu Thalhah datang melamar. Saat itu ia sudah menjadi salah satu orang kaya di Yatsrib. Namun Rumaysa menolaknya. "Apakah sudah ada yang datang padamu membawa logam kuning dan putih (emas dan perak)?" sindir Abu Thalhah. Rumaysa binti Milhan dengan tenangnya menjawab, "Ini bukan soal emas dan perak." Kemudian ia menerangkan kebodohan orang-orang Arab saat itu, "Bagaimana mungkin kau menebang pohon dengan tanganmu sendiri kemudian kau bawa pulang, lalu sebagian kau jadikan Tuhan dan sebagian lagi kau jadikan kayu bakar? Apalagi yang lebih bodoh dari itu?"

Kata-kata Rumaysa binti Milhan tampaknya sangat mengena bagi Abu Thalhah. Ia segera pulang dan langsung membuang berhalanya. Kemudian ia kembali lagi dan mengajukan lamaran lagi pada Rumaysa, "Berapa pun yang kau minta akan kupenuhi." Rumaysa binti Miihan tidak meminta mahar berupa emas dan perak, ia hanya meminta dua kalimah syahadat sebagai mahar.Penduduk Yatsrib gempar mendengar kabar itu. Mereka belum pernah mendengar mahar seperti itu. "Ini adalah mahar paling berharga yang pernah ada," begitu kata mereka.

Rumaysa ra dengan belati di balik gaunnya juga masuk ke medan Uhud bersama-sama dengan 'Aisyah ra. Beliau berdua membawakan air bagi para mujahid di medan Uhud. Butuh keberanian luar biasa bagi perempuan pada masa itu untuk turut serta maju ke medan perang.

Di Indonesia sendiri, Rumaysa binti Milhan lebih dikenal sebagai Ummu Sulaym. "Oooo, Ummu Sulaym," baru deh Umi manggut-manggut. "Ya hebatlah," begitu komentar Buya.

Panggilan Raysa diusulkan oleh Buya sebenarnya. Menurut Buya, Raysa terdengar lebih indah dan artinya juga bagus. Raisah berarti pemimpin perempuan. Sedangkan "Rise" dalam Bahasa Inggris berarti terbit atau meningkat. Jadi semoga Raysa menjadi seorang pemimpin perempuan yang dapat meningkatkan kualitas diri dan masyarakatnya seperti Rumaysa binti Milhan ra. Semoga cahaya ilahi yang menerangi jalan Rumaysa binti Milhan ra, juga mampu menerangi langkah-langkah Raysa dalam menjalani kehidupan.

Barakallah fi umrik puteriku, semoga usia yang diamanahkan Allah padamu dapat memberi keberkahan bagi hidupmu...salam sayang dari Ayah dan Ibu, dan tentu saja Mas Novel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar