Tampilkan postingan dengan label game. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label game. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juli 2014

Khan Academy

mengerjakan soal tetap pakai pencil n paper
Novel sedang sangat bersemangat belajar di Khan Academy. Mungkin karena bakat competitive-nya mendapat penyaluran di sini, sehingga ia bersedia menyediakan waktu untuk menyelesaikan soal-soal yang diajukan oleh Khan. Di Khan Academy, setiap aktivitas yang kita lakukan mendapatkan lencana. Bahkan aktivitas yang tidak memerlukan banyak berpikir pun, seperti menonton video dihargai sebagai satu progress dan mendapatkan lencana. Jumlah poin yang didapatkan menentukan avatar yang bisa digunakan. Prinsip gamification seperti ini membuat Novel sangat semangat belajar.
Khan Academy sebenarnya menyediakan banyak sarana belajar dalam berbagai subjek. Ada Matematika, Sains, Seni, Ekonomi dan Keuangan, juga bagian khusus untuk belajar programming. Namun untuk anak seusia Novel yang hampir tidak bisa Bahasa Inggris, tampaknya hanya matematika yang paling cocok.
Subjek selain matematika menggunakan video sebagai sarana belajarnya. Beberapa disertai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahaman tentang materi yang disampaikan dalam video, beberapa lainnya tidak. Sebenarnya Khan Academy sudah menyediakan video berbahasa Indonesia, namun sayangnya  video-video ini tidak termasuk ke dalam video yang bisa memberikan lencana. Sementara menonton video saja sudah mendapatkan poin di sini. Ini menjadi alasan mengapa Novel malas menonton video dalam Bahasa Indonesia.
Untuk menonton video, Novel harus didampingi karena kemampuan Bahasa Inggrisnya yang kurang. Konsekuensinya, aku pun harus menghentikan video sejenak untuk menjelaskan apa yang baru saja kami tonton. Namun beberapa video sama sekali tanpa kata-kata, hanya gambar yang kuat, yang mampu menjelaskan materinya. Misalnya video tentang pembuatan magnet. Video ini tanpa kata-kata, hanya saja, pertanyaan yang mengiringi video ini dibuat dalam bahasa Inggris sehingga tetap saja Novel perlu didampingi penerjemah.
Bahasa menjadi satu-satunya kelemahan di Khan Academy. Akibatnya semangat belajar Novel terbentur kendala bahasa. Sepertinya penguasaan bahasa Inggris menjadi urgent agar dapat lebih leluasa menjelajahi sumber belajar di dunia....
Bagi yang ingin ikut mencoba silakan ke http://www.khanacademy.org
Buat akun untuk orangtua terlebih dahulu kemudian buat akun untuk anak-anak....have fun learning...

Selasa, 25 Desember 2012

Dari Dora Buat Raysa

Raysa baru saja mengenal game komputer. Setelah game dressing up, dia mulai beranjak ke game-game jenis lain. Game yang menarik bagi Raysa kali ini adalah beberapa game yang karakter utamanya adalah Dora. Game-game ini semuanya menggunakan mouse sebagai alatnya, kalaupun menggunakan keyboard biasanya hanya butuh 1 tombol saja.
1. Pengiriman Hewan Dora (Dora Pet Shop)
Ceritanya Dora harus mengantarkan anjing peliharaan ke sebuah Pet Shop. Untuk sampai ke Pet Shop, Dora harus melewati jalan yang naik turun. Dalam permainan ini Raysa harus mengendalikan kecepatan sepeda Dora agar si anjing tidak terlempar keluar. Permainan akan selesai jika anjing yang dibawa terlempar keluar. Raysa berhasil mencapai level 8 di permainan ini, tapi kemudian ia berhenti karena bosan. Mungkin karena perjalanannya nyaris tidak berubah (hanya ada perubahan tinggi rendahnya bukit yang dilalui Dora, yang mungkin saja tidak terasa begitu berbeda bagi Raysa). Game ini dimainkan dengan tombol panah atas. Cukup dengan menekan satu tombol ini saja untuk mengendalikan kecepatan sepeda Dora.

2. Dora's Cooking
Game ini asli dari Nickelodeon, jadi gambarnya lebih bagus dari game di atas, musiknya juga lebih menarik. Ceritanya Dora dan ayahnya hendak memasak. Raysa diminta untuk membantu Dora memasak. Ada 10 resep yang bisa dipilih dari buku masak Dora. Semuanya masakan Mexico. Di sini Raysa harus mencocokkan bentuk yang ada di buku resepnya dengan bentuk-bentuk yang ada di dapur. Game ini tersedia dalam dua bahasa: Spanyol dan Inggris. Di awal Raysa bisa memilih menggunakan Bahasa Spanyol atau Inggris. Jika menggunakan Bahasa Spanyol, maka nama bahan-bahannya semua dalam Bahasa Spanyol. Jika memilih menggunakan bahasa Inggris, maka bahan-bahannya semua dalam Bahasa Inggris. Game ini cocok untuk pengenalan bentuk dan belajar bahasa karena pengucapan Dora yang sangat jelas. Beberapa kali bahkan Raysa mengulangi nama bahan masakannya walaupun dengan pengucapan yang cadel.

3. Pembuat Kostum Konyol (Super Silly Costume Maker)
Game ini mirip dengan game dressing up. Di sini Dora dan Diego akan pergi ke pesta kostum konyol. Raysa akan membantu memilihkan kostumnya di mesin pembuat kostum konyol. Mula-mula Raysa memilih dulu hendak bermain dengan Dora atau Diego. Jika bermain dengan Dora, maka Raysa pun memilihkan kostum konyol yang hendak dipakai Dora. Ada tiga variasi kostum untuk topi, baju, dan sepatu. Tentu saja semua kostumnya lucu-lucu. Hasil pakaiannya bisa dicetak di bagian akhir.

4. Bingo with Dora
Main Bingo bersama Dora. Permainan ini adalah permainan mencocokkan gambar. Pada level awal, Raysa hanya mencocokkan bentuk-bentuk saja. Level selanjutnya Raysa mencocokkan warna. Raysa berhenti pada level ini mungkin karena bosan, permainan menjadi terlalu mudah baginya.

5. Dora Master Juice
Kalau game yang ini kelihatannya bukan dari Nickelodeon, namun visualisasinya cukup bagus. Ceritanya Dora hendak meramu juice. Ia butuh bantuan untuk memotong-motong buah dan sayur. Game ini 100% menggunakan mouse dan bisa dimanfaatkan untuk melatih koordinasi jari-jari tangan dalam mengendalikan mouse. Raysa masih sedikit kesulitan memainkan game ini terutama karena koordinasi jari-jari masih belum begitu baik. Seringkali mousenya terlepas sehingga buah tidak dapat terpotong. Namun ia menyukai hasil akhirnya, yaitu juice yang bisa diminum. Ia akan pura-pura mengambil gelasnya dan memberikannya pada Ibu, "Buat ibu," katanya.

Sementara ini kelima game tersebut adalah game yang paling sering dimainkan Raysa. Tampaknya emmang game yang cocok untuk dimainkan oleh anak-anak umur 3 tahun. Tapi Raysa tidak seperti kakaknya yang betah berlama-lama di depan komputer. Ia tetap lebih suka main pizza-pizzaan yang bisa disusun-susun dengan tangan atau building block buat bikin robot. Sisanya ia akan mengajak piala "sang anak" ngobrol sambil digendong-gendong....

Minggu, 25 Maret 2012

Need for Speed


Need For Speed adalah salah satu game komputer yang jadi favorit Novel. Intinya game ini berisi balapan mobil di jalanan. Ada beberapa varian game ini, Novel memainkan balapan mobil di negara bagian Colorado, Amerika Serikat.
Di game ini, pemain dapat berperan sebagai pembalap liar atau sebagai polisi yang berusaha menghentikan balapan liar di jalanan. Sebagai pembalap liar, pemain dapat memilih lokasi balapan, mobil balap yang digunakan (yang semuanya masuk kategori mobil mahal), dan diperlengkapi senjata (maksimal 4 macam senjata untuk memperlambat polisi atau pembalap lain) sesuai dengan level yang dicapai. Sebagai polisi, pemain dapat memilih lokasi pengejaran, mobil polisi yang digunakan (sama hebatnya dengan mobil para pembalap liar), juga persenjataan (maksimal 4 senjata, termasuk road blocks dan helicopter) sesuai level yang dicapai.
Secara visual, game ini sangat indah dipandang. Pemandangan Colorado digambarkan begitu detil bahkan gurat-gurat pohon pun terlihat indah. Efek 3 dimensinya membuat balapan terasa nyata, bahkan saat terjadi tabrakan kaca-kaca yang pecah berantakan pun, bagi saya, terlihat mengerikan. Untungnya game ini minus darah dan kondisi sopir tidak diperlihatkan dengan jelas. Padahal dengan intensitas tabrakan sedemikian rupa, sopirnya pastilah sudah berdarah-darah dan mungkin saja penampilannya jadi tak karuan.  Namun kondisi mobil digambarkan dengan nyata, seperti bemper yang goyang ke atas ke bawah, lecet-lecet atau peot di sana-sini akibat tabrakan. 
Aku sering berkomentar, "Ihhh...kesian amat ditabrak-tabrak." Tapi Novel membalas, "Biasa aja dong, Bu, ini kan cuma bo'ong-bo'ongan." Lho? Beneran nih? Novel sudah bisa membedakan realita dan khayalan? Bukannya anak umur 4 tahun masih kesulitan membedakan mana realita mana khayalan? Hmmm....baiklah..jika dia memang sudah bisa membedakan mana realita mana khayalan, dan dia sadar sepenuhnya bahwa ini hanya bo'ong-bo'ongan, berarti tidak terlalu masalah. Benarkah?
Sebenarnya game ini tidak dibuat untuk anak-anak. Game ini termasuk genre game untuk dewasa atau minimal konsumsi remaja. Game ini membutuhkan koordinasi otak kanan dan kiri secara simultan melalui gerakan motorik jari-jari kanan dan kiri yang berbeda. Awalnya Novel kesulitan mengendalikan mobilnya (ia mulai memainkan game ini umur 4 tahunan), namun sekarang (umur 5 tahunan) ia sudah mahir mengendalikan mobil bahkan berhasil memecahkan rekor kecepatan yang sudah dicetak Ayah.
Tentu saja aku khawatir dengan efek buruk dari memainkan permainan komputer pada usia dini. Menurut penelitian, memainkan permainan komputer dapat mengubah susunan otak. Novel memulai permainan ini sejak usia yang, menurut saya, terlalu dini. Saat otaknya masih dalam masa pembentukan.
Kalau mau fair sebenarnya apa pun yang kita lakukan secara terus menerus akan mengubah susunan otak. Baik itu main piano, olahraga, atau kegiatan apa pun, karena pada prinsipnya semua kegiatan membutuhkan kerja otak dan otak akan menyesuaikan sesuai dengan kegiatan yang kita lakukan. 
Pertanyaannya adalah, susunan otak yang seperti apa yang tercipta akibat memainkan permainan komputer?
Hal menarik lainnya saya temukan ketika Novel memainkan permainan ini dengan temannya yang seusia dengannya. Usia mereka hanya terpaut 3 bulan, mereka sama-sama laki-laki, satu-satunya perbedaan adalah Novel kurus dan temannya itu gendut (lebar tubuhnya 2 kali lebar tubuh Novel, hehehe). Dia bilang, "Aku mo jadi polisi aja, aku kan anak sholeh. Wow! Hebat, kecil-kecil dia sudah tahu bahwa jadi polisi itu baik.  Tapi Novel sekali lagi membantah, "Yeeee...ini kan cuma game, bukan beneran!" Aku terdiam, apakah penalaran moral Novel sudah sampai ke tingkat di mana ada pengecualian untuk kasus-kasus tertentu? Hmmm...butuh observasi lebih lanjut.
Teman Novel ini juga kesulitan menggunakan kedua tangannya. Ia hanya menggunakan tangan kanan untuk tombol di sebelah kiri dan kanan. Akibatnya ia kewalahan mengganti-ganti dari kanan ke kiri dan ke kanan lagi lalu ke kiri lagi. Sementara Novel sudah mahir menggunakan tangan kanan dan kiri secara simultan. Apakah ini berarti otak kanan dan kiri sudah dapat bekerja bersama-sama secara sinergis untuk membantu tugas-tugasnya? Hal ini membuatku makin penasaran dengan apa yang terjadi pada susunan otak Novel sebagai akibat dari permainan komputer ini.
Penelitian lain yang dimuat di detik.com menyebutkan bahwa permainan kekerasan membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat tanpa mengorbankan ketepatan putusan tersebut. Tapi penelitian ini dilakukan pada orang dewasa yang otaknya sudah terbentuk dengan baik. Need for Speed juga tidak bisa digolongkan ke dalam permainan kekerasan murni karena tidak fokus pada kekerasannya. 
Sebagai pembalap liar, pemain dapat memilih untuk tidak menabrak siapa pun karena targetnya adalah menjadi nomor 1. Malah sebagai polisi lebih kasar daripada sebagai pembalap karena lebih rawan untuk menabrak para pembalap liar karena targetnya adalah menghentikan balapan. Untuk menghentikan balapan, polisi mengirimkan helikopter yang akan menebar paku di jalan untuk memperlambat para pembalap. Untuk menghentikan pembalap, polisi juga bisa menggunakan EMP (Electro Magnetic Pulse) yang akan merusak mesin mobil. Para pembalap pun diperlengkapi dengan senjata ini.
"Ayo tabrak!" begitu kata Novel pada temannya yang sedang memainkan game ini sebagai polisi. "Ga, ah, aku kan anak sholeh, ga boleh nabrak-nabrak," begitu jawab temannya santai. Subhanallah! Anak ini benar-benar luar biasa, tegas dan yakin dalam menjawab. So Sweeeeeettt.
Tapi Novel lagi-lagi ga mau terima, "Di sini mainnya emang gitu, musti nabrak!" Bagus ga sih penalaran moral sefleksibel itu dalam usia semuda ini? Dia sudah bisa membedakan mana realita mana khayalan. Karena ini hanya permainan, maka gak apa-apa nabrak-nabrak. Kalo beneran baru ga boleh. Begitu kira-kira yang ada di kepala Novel.
Suatu ketika, saat Ayah sedang main game ini, Ayah sedikit emosi dan terlihat marah. Novel pun nyeletuk, "Ih, Ayah masa' main balapan marah-marah sama laptop," hahaha....Aku menyambung, "Bilang sama Ayah, biasa aja dong, Yah, ini kan cuma mainan," hahaha.....Padahal Novel sendiri juga suka emosian kalo lagi main dan permainan tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi memang aku perhatikan sekarang ia terlihat lebih tenang saat main, tidak lagi seemosian dulu. Apakah ini berarti dia sudah dapat sedikit mengendalikan emosinya?
Aku bukan orang yang langsung menilai teknologi hanya berdampak buruk kepada anak-anak. Tapi aku juga termasuk yang masih beranggapan bahwa ada teknologi mungkin saja berdampak buruk pada anak-anak. Namun seperti tulisan yang aku baca bertahun-tahun yang lalu, "Setidaknya butuh satu generasi untuk mengetahui dampak teknologi terhadap otak anak." Jika ingin tahu bagaimana dampak game konsol pada anak-anak maka kita perlu meneliti generasi pertama pengguna nintendo yang mungkin sudah jadi orangtua pada masa ini. Sayangnya, saya belum menemukan penelitian seperti ini. Belum juga menemukan laporan kerusakan otak dari pengguna-pengguna nintendo generasi pertama.
Satu generasi berarti 20 tahun. Butuh waktu selama itu untuk mengetahui sebuah dampak buruk. Maka saya pikir yang perlu kita lakukan saat ini adalah berjaga-jaga dan terus waspada. Saya pikir akan lebih baik mengarahkan kegiatan anak pada hal-hal positif yang melatih aktivitas seluruh organ motoriknya daripada hanya olahraga jari dan tangan.
Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sehat, yang dapat memberi manfaat kepada umat manusia, Amiiiiinnnn.