Selasa, 22 Mei 2012

Bye Bye MNC TV

Akhirnya setelah beberapa pekan resah karena perilaku agresif Novel. Dikomplain oleh orangtua temannya Novel karena merasa anaknya terluka oleh Novel. Dicurhatin sama guru-gurunya karena perilakunya yang dianggap terlalu agresif, "Saya sudah 10 tahun mengajar, baru kali ini menemukan anak yang kaya gini," duh...hebat bener ya Novel.

Akhirnya kami benar-benar melakukan aksi yang sebenarnya sudah jadi pertimbangan sejak lama: menghilangkan saluran MNC TV! Pertimbangannya adalah: acara prime time yang biasanya merupakan waktu nonton TV bagi anak-anak tidak ada satu pun yang berkualitas. Terutama "Tendangan si Madun" yang tampaknya benar-benar mempengaruhi Novel. Sebagaimana sudah diulas di postingan sebelumnya, cerita di sinetron bergenre "Bimbingan Orangtua" ini (seharusnya Remaja, menurut saya) dihiasi oleh adegan-adegan penyelesaian masalah dengan kekerasan. Tidak ada musyawarah, langsung tendangan yang berbicara. Bola dilempar langsung di ke bagian tubuh lawan. Sehingga hampir keseluruhan waktu dalam satu episode sinetron diisi oleh adegan perkelahian. Tidak seperti film anak-anak lainnya, seperti Ben10 atau Power Rangers yang biasanya adegan perkelahian ada di akhir episode (1 segmen), sementara sisa episode lainnya (sekitar 2-3 segmen) adalah penjelasan alur cerita hingga sampai pada keputusan akhir: perkelahian.

Urusan eksekusi keputusan diserahkan pada Ayah. Saluran MNC TV pun diskip, terimakasih pada teknologi televisi masa kini. Tapi karena kami masih menimbang beberapa acara yang masih relatif tidak berbahaya bagi anak-anak seperti Upin Ipin dan Club House Mickey, maka MNC TV pun dipindah ke saluran bernomor 200. Dengan demikian, setidaknya sementara ini hanya ayah dan ibu yang bisa mengakses saluran tersebut.

Alhamdulillah, setelah berlalu beberapa pekan, tak ada lagi komplain dari orangtua atau pun guru. Novel pun makin dewasa dalam bersikap dan bertindak. Ini juga ditambah insiden lepasnya gigi susu, sehingga Novel pun bertambah yakin bahwa ia sudah besar. Novel pun sekarang makin rajin sholat, makin rajin ngaji, alhamdulillah...Terus menjadi dewasa ya Novel....:-)

Sabtu, 19 Mei 2012

Timmy Time dan Perbendaharaan Kata

Pernah membaca di salah satu artikel detikHealth (lupa artikel yang mana), katanya menonton film tidak akan berpengaruh signifikan pada perkembangan bahasa anak. Perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan oleh pengasuhnya (ibu, ayah, nenek, kakek, atau siapa pun orang dewasa yang biasa berinteraksi dengannya). Hal ini karena film merupakan stimulus visual, sedangkan bahasa adalah stimulus auditorik. Salah satu eksperimennya adalah dengan memasukkan suara yang tidak sinkron ke dalam film Sesame Street, ternyata hampir ga ada anak-anak yang menjadi subjek eksperimen yang menyadari adanya suara yang tidak sinkron tersebut.

Nah...kalau begitu, aku jadi bertanya-tanya: apakah film tanpa kata-kata menjadi lebih baik untuk anak-anak? Sekarang ini sedang marak film animasi minim kata di televisi kita, sebut saja Bernard Bear, Saun the Sheep, dan Timmy Time yang jadi kesukaan anak-anak. Film-film ini punya stimulus visual yang sangat kuat, bahasa simbolnya melalui gerakan dan mimik muka pemerannya dibuat sangat jelas. Hingga Raysa pun bisa menebak emosi pemerannya: nangis, marah, senang, ketawa.

Raysa sebenarnya suka sekali menirukan kata-kata dalam film. Dari Dora, ia menirukan cara Dora berhitung: one, two, three (dengan pengucapan yang agak berbeda tentunya, hehehe). Dari Paddle Pop Begins ia menirukan percakapan saat Liona memperkenalkan diri pada Jak si kunang-kunang, "Aku Liona," katanya sambil menlekatkan tangan ke dada. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah Raysa benar-benar tahu apa makna kata-kata yang diucapkannya?

http://www.abc.net.au/reslib/201008/r625049_4221515.jpgIa mengulang-ulang hitungan Dora sambil meletakkan benda-benda dan menyusunnya. Hmmm...sepertinya Raysa cukup memahami masalah hitungan ini. Ia mengulang percakapan Liona dan ternyata mengembangkannya dengan memperkenalkan orang-orang disekitarnya, "Aku Liona, ini Ibu, kalo yang itu Mas Novel, ini Ayah." Hmmm....sepertinya ia tahu kalau percakapan itu tentang perkenalan. Kalau begitu apakah berarti sebenarnya anak-anak juga bisa belajar penggunaan bahasa melalui video?

Yang agak meresahkan adalah, peniruan Raysa terhadap percakapan di Timmy Time. Tahu sendiri semua tokoh di Timmy Time menggunakan bahasa masing-masing dalam berbicara. Si Kucing bilang, "Miu miu miu," si Kambing bilang, "Baaa baaa baaa," lalu si Bebek bilang, "Kwek kwek kwek," dan herannya mereka semua bisa saling mengerti. Raysa suka sekali menirukan kata-kata si Kucing, "Miu miu miu," dan mengembangkannya menjadi, "Biu biu biu," atau "Kyu kyu kyu." Bahkan memanggil ibu menjadi, "Ibyyuuuuu."

Hadduh...jadi geleng-geleng kepala....sekarang Raysa pun makin suka menggunakan bahasa tubuh jika menginginkan sesuatu. Sebenarnya dari dulu ia sudah menyukai bahasa tubuh, tapi sekarang kan dia sudah punya banyak perbendaharaan kata, seharusnya ia bisa menggunakan kata-kata jika menginginkan sesuatu.

Apakah ini karena film animasi yang minim kata-kata namun kaya bahasa tubuh? Ataukah karena stimulus berupa kata-kata masih kurang didapatkannya di rumah?

Kalo melihat penelitian yang diangkat di atas, sepertinya Raysa membutuhkan lebih banyak stimulus bahasa dari Ayah dan Ibu ya....:-)

Kamis, 17 Mei 2012

Ayam Goreng Bumbu Bali ala Novel

Makan siang masak apa ya....? Di kulkas masih ada ayam, "Kita apain ayamnya, Mas?" minta ide dari chef Novel ah. Novel berlagak mikir..., "Diapain ya....?" "Dibikin bumbu bali aja yuk..." jadi andalan nih kalo dah kehabisan ide..."Yuuuuukkk...." Novel mengikutiku ke dapur...

Buka kulkas dan..."Waaaa....tomatnya abis...gimana dong?" "Pake jeruk aja!" Novel mencetuskan ide. "Hah?" tomat diganti jeruk....? Rasanya beda dong...Tapi biar ajalah...sekalian ngabisin jeruk yang dibeli sama Ami dua pekan sebelumnya.

Jadilah Ayam Goreng Bumbu Bali ala Novel...tomat diganti jeruk...hehehe... Di sini hampir semuanya ibu yang mengerjakan, Novel hanya membantu mengupas jeruk dan mengulasnya satu persatu ke dalam ulekan...

Bahan-bahan

Ayam 1/2 ekor
Minyak goreng secukupnya

Bumbu
cabe 4 buah (bisa ditambah kalo doyan pedes)
bawang 4 siung
jeruk shantang daun 4 buah
gula merah secukupnya
garam secukupnya
jahe bubuk 3/4 sendok teh
serai

Cara memasak
1. Goreng ayam setengah matang, sisihkan
2. Giling semua bumbu sampai halus kecuali serai
3. Tumis bumbu hingga setengah matang
4. Masukkan ayam yang sudah digoreng setengah matang
5. Tumis semuanya hingga bumbu dan ayam matang
6. Siap dihidangkan

Ternyata hasilnya tetap nikmat....rasa jeruknya seperti tenggelam oleh jahe dan serai....kalo mau rasa jeruknya muncul mungkin lain kali perlu ditambah jumlah jeruknya 5 atau enam buah....bagaimana pun ide Chef Novel keren juga....hmmm...ditunggu ide lainnya Chef....hehehehe....