Tampilkan postingan dengan label observasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label observasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Apa yang Bisa Dipelajari dari Remote TV?

Waktu kuliah dulu pernah membaca penelitian mengenai tingkat kemakmuran. Salah satu kriteria yang menunjukkan tingkat kemakmuran suatu keluarga adalah kepemilikan televisi. Keluarga yang memiliki televisi lebih makmur daripada yang tidak memiliki televisi. Keluarga yang memiliki televisi berwarna lebih makmur dibandingkan yang memiliki televisi hitam-putih. Tapi itu dulu, akhir tahun 80-an, saat penelitian tersebut digelar.

Sekarang, televisi sudah menjadi bagian dari keluarga Indonesia. Hanya mereka yang benar-benar berada jauh di bawah garis kemiskinan-lah yang tidak memiliki televisi. Saking terbiasanya dengan televisi, Ayah akan mengambil remote TV sebelum duduk di kursi bahkan saat listrik padam.

Sebagai pelengkap televisi, remote TV pun menjadi alat yang sangat biasa berada di rumah orang-orang Indonesia. Alat kecil yang bisa mengendalikan TV dari jarak jauh ini sangat mudah digunakan bahkan oleh anak kecil sekali pun. Coba diingat lagi umur berapa anak Anda pertama kali memanfaatkan remote TV sesuai fungsinya?
remote atau hape?

Novel sudah mengenal remote TV saat usianya belum lagi genap satu tahun. Mula-mula ia menggunakannya seperti hape dengan melekatkan remote ke telinganya. Hal yang sama diperlihatkan oleh Raysa juga menggunakan remote. Bedanya hanya Raysa melakukannya lebih sering dibandingkan Novel.

Setelah agak besar aku tidak begitu ingat apa yang dilakukan Novel pada remote TV. Namun hal yang menarik aku temukan pada Raysa. Ia seperti belajar banyak dari TV.

1. Mengenal fungsi
Setiap alat ada manfaatnya dan bisa berfungsi optimal jika kita memanfaatkannya sesuai fungsinya. Raysa sangat suka mengutak-atik barang. Berulangkali ia mengeluarkan baterai remote dari sarangnya. "Kalo ngga ada baterenya ngga bisa nyala, Dek," begitu kami mengingatkan sambil mencari-cari baterai yang kadang-kadang malah sudah berada di tempat mainan favoritnya. Remote juga sering dijalankan Raysa sebagai mobil-mobilan sehingga bagian bawahnya lecet dan tentu saja baterainya terlepas lagi. Tapi itu dulu, sekarang Raysa sudah bisa mematikan dan menghidupkanTV dengan remote. Ayah pun kemudian mengganti remote yang sudah acakadut dengan remote baru yang lumayan klimis.

2. Mengenal angka
Saat Raysa mulai tertarik dengan tulisan, ia baru sadar bahwa ada tulisan di remote TV. Aku pun mulai memberi semacam pengarahan kecil seperti, "Nonton nomor 7 aja, ada film bagus," Raysa pun melihat ke remote dan mulai mencari angka 7. "Ini?" tanyanya sambil menunjuk angka 6, "Bukan, ini," aku menekan angka tujuh. Begitu seterusnya hingga ia hafal sendiri.

3. Memilih
Acara televisi memang banyak sekali. Sayangnya tidak semua acara TV pantas ditonton anak-anak. Kami sepakat untuk menghindarkan anak-anak dari acara-acara tidak bermutu dengan menamai acara tersebut: acara jelek. Kita hanya menonton acara bagus yang berisi pengetahuan seperti si Bolang, Dunia Binatang, atau acara-acara yang memang bergenre anak-anak seperti Timmy Time, Dora, atau Doby and Disy. Novel sekarang sudah bisa membedakan mana acara jelek dan mana acara bagus. Yang menarik Novel juga mulai bisa membedakan mana fantasi dan mana yang kenyataan sehingga ia tidak menerima mentah-mentah semua acara TV yang ditontonnya.

Kemampuan memilih ini bisa menjadi modal bagi anak untuk memilih dalam kehidupan nyata yang memang penuh pilihan. Mereka harus tahu bagaimana cara memilih dan apa yang harus dipilih...semoga anak-anak kita tidak salah pilih....

4. Menghormati orang lain.
Jika seseorang sudah memilih satu acara tertentu, maka orang yang baru datang tidak boleh seenaknya mengganti saluran dengan remote. Ia harus meminta ijin dulu pada orang yang sedang asyik menonton agar kita bisa menonton bersama. Menghormati pilihan orang lain menjadi pelajaran yang menarik karena sarat akan kemungkinan pertengkaran antar saudara. Hihihi...hidup ini indah kan...:-)

Itu beberapa hal yang bisa dipelajari dari remote TV...menyenangkan sekali kan learning by doing...:-)

Pembalasan Novel

Sudah hampir sepekan ini Novel selalu mengalami pukulan saat ia sedang sholat di masjid. Saat sedang sujud tiba-tiba bokongnya ditendang tanpa alasan atau saat sedang berdiri punggungnya dipukul begitu saja tanpa peringatan. Aksi pemukulan ini terjadi setiap kali ia sholat di masjid. Menurut Ayah pukulannya lumayan keras karena terdengar suara, "Buk!" begitu terjadi pemukulan. Sebenarnya tidak tega sekali melihat anak sendiri dipukul terus menerus. "Kenapa ngga dilawan, Mas?" begitu kata Ayah. "Abis, kita kan lagi sholat," begitu Novel berdalih.

"Siapa sih yang suka mukul?" tanyaku. Novel menunjuk seorang anak lelaki yang lebih pendek darinya tapi badannya lebih berisi. Anak ini masih kecil, mungkin seumuran Raysa. Kata Ayah sepertinya ada yang memberi komando kepada anak itu untuk melakukan aksi pemukulan ini. Sebelum terdengar suara "Buk!" yang menandakan telah terjadi aksi kekerasan di masjid, selalu ada suara, "Pukul yang baju oren!" atau "Pukul yang itu!" tapi tidak jelas siapa yang memberikan komando. Namanya juga lagi sholat, Ayah tidak bisa melakukan observasi visual.

Novel bukan satu-satunya korban anak itu. Herman juga mengaku sering ditendang kepalanya saat sedang sholat. Deva pun menyebut anak itu, "Emang belagu tuh anak!" Kesimpulannya, kejadian ini sudah berulang kali terjadi namun tak ada seorang pun yang bertindak. Mungkin karena pelakunya anak kecil sehingga semua menganggapnya sebagai permainan anak kecil belaka. Mungkin juga seperti Ayah yang merasa bahwa ini urusan anak-anak dan tidak sepantasnya orangtua turut campur. Ayah hanya menyemangati agar Novel tidak diam saja jika diperlakukan seperti itu.

Akhirnya siang itu saat sholat Zhuhur di masjid, Novel memutuskan untuk membatalkan sholatnya. Ia berdiri saat anak itu memukulnya ketika sujud. Dengan sangat keras, Novel menendang anak itu di dadanya hingga ia sesak napas. Setelah berhasil melancarkan napasnya, anak itu balik menyerang Novel dan terjadilah perkelahian kecil di masjid saat sholat sedang berlangsung. Tak ada orang dewasa yang turun tangan karena semua sedang sholat berjamaah, hanya anak-anak yang melihat dan tidak ada seorang pun melerai.

Angry Novel
Perkelahian akhirnya berhenti tanpa ada yang terluka parah. Aku tak tahu bagaimana ceritanya hingga aksi pukul-pukulan ini berakgir. Mungkin karena si anak itu akhirnya tidak melawan lagi. Aku tahu Novel pasti akan berhenti kalau lawannya sudah berhenti melawan.

Tampaknya aksi Novel membuat teman-temannya yang lain berani bertindak. Saat sholat maghrib anak itu dibuat menangis oleh Daffa. Novel tidak tahu bagaimana ceritanya sampai anak itu menangis. Mungkin karena Daffa melawan saat aksi pemukulan terjadi lagi.

Aku tak bisa menyalahkan Novel karena ia memang sudah sering menjadi korban. Di sisi lain, aku sadar bahwa anak kecil ini membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus karena mungkin saja ia melakukan tindakan agresif ini bukan atas keinginannya sendiri. Atau mungkin saja ada yang salah dalam pengasuhan anak ini hingga ia sangat mudah melakukan tindakan agresif.

Hebatnya Novel ia mampu menahan diri berhari-hari. Tindakannya sudah tidak seimpulsif dulu. Perkembangan emosinya mengalami kemajuan. Aku mengacungkan jempol untuk hal ini.

Novel telah memilih. Ia memilih untuk melawan dan pilihannya itu membuat teman-temannya berani tegak melawan juga. Namun, apakah anak kecil ini pantas dilawan? Atau ia tak perlu dilawan dan dibiarkan saja bertindak semena-mena? Siapa yang biasa menyuruhnya memukul? Anak ini pun seharusnya diberi pelajaran. Mereka sepertinya telah menjadi aksi pemukulan sebagai acara untuk bersenang-senang. Ini bukan permainan...ini kezhaliman...

Kamis, 14 Maret 2013

Beberes in Style

hampir beres
Beberes adalah hal yang paliiiiiiiiing melelahkan. Menyenangkan sebenarnya melihat rumah rapi tapi asli melelahkan karena kerapian itu paling lama hanya bertahan 2 jam alias selama anak-anak tidur. Jika mereka sudah terbangun...wow...be ready for berantakan!

dimasukin ya....
Seperti pagi itu...rumah rasanya berantakan sekali. Lego bertebaran di lantai, puzzlemat berserakan di mana-mana, belum lagi. Pensil warna menggelinding di seluruh ruangan....dan aku sedang terlalu lelah merapikan semua.

Raysa sudah siap berangkat ke BiMBA, tapi mataku sepet-sepet melihat keberantakan rumah. Tak ada semangat kalau chaos berlaku serupa ini. "Yok, Dek, rapihin rumah dulu yuk sebelum berangkat," ngajakin Raysa walaupun dengan keyakinan sangat minimalis Raysa akan bersedia.

Di luar dugaan, ia lebih bersemangat dariku dalam membereskan semua kekacauan ini. Ia segera mengambil tas tempat lego dan memunguti legonya satu persatu. Alhamdulillah! Aku bersorak girang di dalam hati, "Pinternya Uni Raysa!" Raysa pun mengulum senyum dan makin semangat membereskan mainannya.

 Segera kuambil kamera untuk mengabadikan momen bersejarah ini. Raysa pun makin semangat, tahu sendiri kan Raysa tuh sangat fotogenit, langsung genit kalo tahu mau difoto. Ia pun mengumbar senyum lebar-lebar sambil beberes...jadilah beberes in style!

Senin, 04 Februari 2013

Rumah Kepompong

Proses Pembentukan Kepompong
Ulat Bulu dalam Kubah Kepompong
Saat hujan deras pertengahan januari lalu, tiba-tiba banyak sekali ulat bulu di sekitar rumah kami. Banyak di antara mereka yang berhasil masuk rumah. Mungkin karena menghindari hujan deras yang nyaris sepanjang hari, mereka pun mencari perlindungan ke dalam rumah. Berkali-kali dilempar lagi ke halaman depan yang ditumbuhi rumput, tapi berkali-kali pula mereka kembali lagi. Akhirnya ada yang berhasil membuat kepompong di sudut ruang tamu.
Proses Pelepasan Bulu
Proses Pengerasan Cangkang
Kepompong kali ini tidak seperti kepompong kupu-kupu yang tertutup rapat. Kepompong ulat bulu yang ini seperti jaring laba-laba sehingga kita masih bisa melihat isinya untuk mengamati proses yang terjadi di dalamnya.

Kepompong Hari Pertama
Ada lima kepompong di dalam rumah ketika itu. 4 buah di sudut ruang tamu tepat di balik pintu dan 1 buah mengambil tempat yang nyaman di mainan lego. 1 kepompong di balik pintu rusak karena dimakan semut. Ulat bulu dalam fase kepompong memang sangat lemah sehingga bisa diserang oleh semut-semut tanpa perlawanan sama sekali. Memang kepompong yang rusak ini dibuat dnegan kurang rapih sehingga mudah ditembus oleh semut. Sementara 3 kepompong lainnya selamat karena secara kasat mata memang terlihat pada jaringan benangnya.

Setelah kubah benang selesai, proses selanjutnya adalah pelepasan kulit. Setelah seluruh kulit terlepas, maka terlihatlah ulat yang sesungguhnya berwarna putih seperti larva. Proses ini dilanjutkan dengan pengerasan cangkang. Kulit ulat akan berubah menjadi keras seperti cangkang dan berwarna hitam. 
Kepompong Bercangkang Utuh
Hmmm...mungkin ini sebabnya kepompongnya tidak terlihat begitu kuat. Sebagai pelindung yang utama adalah cangkangnya yang baru selesai 2 hari setelah kepompong selesai. Proses selanjutnya terlepas dari pengamatan karena kami pergi berakhir pekan bersama Umi dan Buya. Begitu sampai di rumah, yang ada hanya cangkang kosong.

Akibatnya kami tidak tahu pasti serangga seperti apa yang keluar dari kepompong seperti ini. Tapi rumah kami tiba-tiba disambangi oleh ngengat-ngengat kecil, sehingga kami pun berkesimpulan bahwa ulat bulu ini telah berubah menjadi ngengat, bukan kupu-kupu....

Alhamdulillah...ternyata rumah kami begitu nyamannya sehingga ulat bulu pun senang ada di rumah kami dan memilih tempat kami berteduh ini sebagai tempat bagi mereka menjadi makhluk yang lebih baik....senangnya bisa memberi manfaat bagi makhluk hidup lain....:-)