Selasa, 12 Januari 2016

Novel Sang Arranger

Hari ini Novel memutuskan untuk resign dari pekerjaan menyapu dan mengepel. Kedua pekerjaan itu didelegasikan kepada Kakak Raysa. Novel memilih merapikan rumah, membersihkan kamar mandi, dan menjemur pakaian.
Baiklah, mungkin kita butuh penyegaran.
Jadilah, hari ini Raysa magang menyapu dan mengepel. Ibu dan Eyang yang menjadi supervisornya. Sementara Novel merapikan rumah sendiri. Ia sudah memahami bagaimana cara merapikan barang-barang dan menyusunnya hingga terlihat sedap dipandang mata.
Hasilnya menakjubkan. Kabel-kabel yang berseliweran menjadi terlihat ringkas dan resik. Tempat tidur Dede Aida pun jadi terkesan luas karena Novel berhasil menyusun barang-barang yang bertebaran. Meja buku Novel dan Raysa pun terlihat sedap dipandang, bukan lagi berantakan.
Aih! Luar biasa sekali hasilnya hari ini. Saya sebagai ibunya hanya bisa takjub, benar-benar tak menyangka. Tadinya saya kira potensi kepemimpinan Novel hanya 'command'. Hari ini ia menunjukkan potensinya yang lain, 'arranger'.
Sekali lagi saya 'dijitak', tampaknya sudah lama saya tidak 'memperhatikan'.

Jumat, 08 Januari 2016

Dede Jadi Kakak

"De, handuknya tolong langsung dijemur, ya," aku mengingatkan Raysa.
Raysa diam saja, seperti tidak mendengar. "De, tolong handuknya," aku mengulangi sepotong saja, yakin Raysa hanya pura-pura tak mendengar. "De, ibu didenger ngga?" ini ketiga kalinya dan ajaib, Raysa langsung mendongak. "Handuk siapa?" tanyanya spontan. Aku tersenyum menarik napas, "Maaf, Kakak, tolong handuknya langsung dijemur."
Setelah 6 tahun menjadi bungsu, sekarang Raysa sudah punya adik. Dia tak mau lagi dipanggil 'Dek'. Sekarang Raysa adalah 'Kakak'.
Menjadi 'Kakak' berarti punya tanggungjawab terhadap adiknya. Raysa senang sekali menjadi penjaga adiknya. Ia akan bernyanyi untuk adiknya, mengajaknya bicara, bahkan muroja'ah di hadapan adiknya. Untuk urusan momong, Raysa sedikit demi sedikit sudah berevolusi menjadi ahli.
Yang susah 'move on' itu ayah ibunya. Masih saja menganggap Raysa sebagai 'puteri kecilnya'. "Aku udah jadi 'Kakak', Ibu."

Kamis, 07 Januari 2016

Diet TV

"Anak-anak kalo belajar di sini?" tanya seorang teman yang datang bertandang. Dia tahu kami melaksanakan homeschooling, alias belajar di rumah. Keheranannya muncul ketika mengetahui kami belajar di depan TV yang mati, "Ngga terganggu, ya, konsentrasinya?"
"Ngga, kita udah sepakat soal waktu nonton TV," aku menjawab ringan.
Di rumah kami TV hanya menyala 2-3 jam perhari. Awalnya saya pun tidak percaya diri untuk melepaskan anak dari TV, mungkinkah?
Ternyata mungkin. TV baru boleh dinyalakan setelah semua pekerjaan selesai. Lalu selama waktu belajar, TV harus dimatikan. Akhirnya kotak hitam itu baru dinyalakan lagi setelah shalat zhuhur hingga waktu tidur siang. Sore hari, setelah bangun tidur hingga maghrib. Sedangkan malam hari, waktu menonton adalah selepas shalat isya hingga waktu tidur malam.
Jika sedang bersemangat menggarap proyeknya, anak-anak malah lupa untuk menyalakan TV. Jadilah Novel sibuk menggambar, Raysa sibuk bercerita, dan kotak hitam itu pun terabaikan.
Yah, ternyata bisa saja hidup tanpa menyalakan TV seharian.