Rabu, 22 Februari 2012

Tendangan si Madun

Ini adalah salah satu sinetron yang sepertinya bergenre sinetron remaja, tapi dari hari ke hari cerita makin ngawur dan ga jelas. Awalnya aku membolehkan Novel menonton sinetron ini dan masuk ke dalam kategori acara lumayan karena episode awalnya memang "lumayan" untuk anak-anak.

Ceritanya tentang si Madun yang ingin jadi pemain Timnas sepakbola. Kepala sekolahnya melihat Madun memiliki potensi terpendam hingga terpilih untuk menjadi salah satu anggota tim sepakbola di sekolahnya. Sayangnya ayah si Madun tidak setuju Madun bermain bola. Ayah Madun adalah seorang ulama di kampungnya. Ia ingin agar Madun juga menjadi ulama. Bagi Ayah Madun, main bola itu tidak penting.

Kemudian cerita bergulir beberapa episode....masih masuk kategori lumayan. Namun beberapa episode setelah episode-episode awal, cerita seperti terfokus pada trik-trik tipuan Madun agar dapat bermain bola. Ia dan teman-temannya bersekongkol membohongi ayahnya agar bisa main bola. Hmmm...mulai ga enak nih...gimana pun kan berbohong itu dosa, apalagi membohongi orangtua. Tapi di sinetron ini, berbohong sepertinya dilegalkan demi main bola....ckckck...seingatku itu bukan alasan yang diperbolehkan untuk berbohong.

Beberapa episode kemudian Madun kena getahnya, ia buta saat main bola. Ayahnya ngomel-ngomel dan bilang, "Inilah akibatnya kalau kau tak ikut kata orangtua." Tapi cuma sampai di situ saja. Kebutaan Madun tidak diinsyafi sebagai akibat dari kebohongan-kebohongannya yang lalu malah kebutaan ini menjadikan Madun pemain yang lebih hebat. Yah...gimana sih...lalu apa konsekuensi dari kebohongan-kebohongannya itu?

Makin ke sini ceritanya makin ga jelas. Madun dan timnya ikut serta dalam kompetisi Futsal. Tapi tim-tim lawan Madun tidak hanya tim bola, tapi tim bola karate, tim bola wushu, tim bola silat, bahkan ada tim bola Naruto. Yang paling bikin ga jelas adalah, masing-masing tim ini berkompetisi tidak hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan.

Brusli, kiper tim Madun sedang enak-enakan latihan di depan rumahnya, tiba-tiba ditendang pake bola. Salah satu anggota tim Madun yang lain sedang berjalan menuju apotek hendak membeli obat untuk tetehnya tiba-tiba diserang di jalan dengan bola. Dan adegan serupa bertebaran hampir di satu jam penayangan.

Hhhhh...sayangnya Novel udah terlanjur nonton dan udah terlanjur suka. Dia jadi suka main bola gara-gara Madun. Yang senang pasti ayahnya, udah ada temen buat nonton main bola. Soal dampak yang ini sih ga masalah. Dampak yang paling aku khawatirkan adalah tentang logika penyelesaian masalah di sinetron ini. Di sini masalah diselesaikan dengan bertarung bola. Sepak Bola bukan menjadi olahraga melainkan alat untuk menyerang orang yang tidak kita suka. Penyelesaian masalah seperti apa yang bisa diambil di sini?

Sportivitas dalam permainan sepakbola malah sama sekali tidak ditonjolkan. Hanya sedikit ada nilai-nilai sportivitas, kerjasama tim, yang merupakan nilai-nilai dalam sebuah permainan. Sayangnya yang paling banyak ditonjolkan adalah bola sebagai senjata. Adegan-adegan para tokoh yang terkena tendangan bola diulang berkali-kali. Sementara adegan yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan, sportivitas, dan kerjasama tim seperti tenggelam dari keseluruhan sinetron ini.

Secara keseluruhan, ibarat kata kaskuser, sinetron ini layak dilempari bata.

Yang paling nyesek sebenarnya adalah Novel dah terlanjur suka....jadinya tiap kali nonton aku jadi sibuk memperbaiki adegan-adegan yang buruk di sinetron ini. "Astaghfirullah! Masa dia ga ngapa-ngapain tiba-tiba ditendang pake bola? Kan bisa ngomong baik-baik, tanya dulu baik-baik, biar jelas, ya ngga, Mas?" Mudah-mudahan efek buruk tayangan ini bisa dikendalikan....Sesuai dengan Filosofi Positive Parenting: Allah sudah membekali setiap anak pertahanan diri untuk menjaganya dari hal-hal yang buruk. Tugas orangtualah membantu anak memanfaatkan potensinya ini...

Lindungilah anak-anak kami dari segala keburukan dunia, Ya Allah....amiiiinnnn

Tongkol Bumbu Bali ala Nesri

Tongkol digoreng lagi digoreng lagi....boseeeeennnn......Sebenernya sih pengen bikin sarden seperti yang diresepkan Bu Mulyanti Dhani, tapi bahan-bahannya lupa dan males buka laptop...maklum filenya masih dalam bentuk digital...hehehe...

Yang diingat dari resepnya bu EMDee cuma ikan laut digoreng setengah matang lalu dimatangkan dalam saos tomat, sisanya...lupaaaaaa....
Akhirnya jadilah resepnya.....yang ternyata yummmyyy....daging ikannya lembut dan bumbunya meresap...hmmm...ennnaaakkk...sayang nih ga sempet difoto...

Beginilah resep modifikasi yang akhirnya saya buat

Bahan:
1 ekor ikan tongkol ukuran sedang (ga mampu beli banyak-banyak, 1 ekor aja deh....ikannya bisa diganti jenis lain yang juga banyak dagingnya seperti kembung atau sardin)
Minyak goreng secukupnya untuk menggoreng ikan

Bumbu:
4 buah cabe keriting (bisa ditambah kalo suka pedes)
1 buah tomat ukuran sedang (bisa dikurangi kalo suka pedas)
4 siung bawang ukuran kecil (bisa dikurangi atau ditambah sesuai selera)
1 ruas jari jahe (aku pake jahe bubuk jadi ukurannya sekitar setengah sendok teh)
1 bonggol gula merah ukuran kecil (bisa dikurangi jika suka pedas)
Sebatang serai (yang ini biar bumbunya harum, tapi berhubung tadi serainya hancur karena kelamaan di kulkas, jadi tadi ga pake)
Daun salam secukupnya (ini juga biar harum dan seger, tapi ternyata tadi aku juga kehabisan, jadi ga pake deh...)
Garam secukupnya

Cara Memasak
1. Goreng ikan tongkol hingga setengah matang, ga perlu kuning-kuning banget. Sisihkan
2. Ulek semua bumbu sampai halus.
3. Goreng bumbu hingga setengah matang
4. Masukkan ikan ke dalam bumbu
5. Masak hingga bumbu dan ikan matang
6. Tongkol Bumbu Bali ala Nesri siap dihidangkan....;-)

Mudah-mudahan bermanfaat...:-)

Pacaran Itu Sebenarnya Apa Sihhhh?

Gubrax! Akhirnya muncul juga pertanyaan ini dari mulut Novel. Sebenarnya aku sudah lama menunggu-nunggu pertanyaan ini. Ketertarikan Novel terhadap masalah hubungan antara lawan jenis sudah terlihat sejak lama. Mulai dari ketika ia menyatakan bahwa ia punya 2 orang pacar, si kembar Dewi anak tetangga, cucunya Pak Guntur. Kami meresponnya dengan senyum-senyum ga jelas.

Pertanyaan yang muncul saat itu adalah, "Apakah sudah saatnya Novel dikenalkan tentang hubungan lawan jenis?" Umurnya menjelang 5 tahun ketika itu, rasanya masih terlalu kecil untuk membicarakan pacaran dan sejenisnya.

Teman bermain Novel melaporkan, "Masa tadi Novel nyium Dewi!" Alamak! Ngapain jadi cium-ciuman segala? Sebelum aku sempat berkomentar Novel sudah langsung menyambar, "Namanya juga sayang! Ya kan, Bu?" Aku senyum aja. Ga salah juga sih, bukannya kami juga mencium Novel dan Raysa sebagai ungkapan kasih sayang? "Emang kalo sama pacar musti sayang?" aku mencoba menggali pemikirannya tentang kata "pacar". "Ya iyalah, namanya juga pacar?" jawab Novel enteng. "Emang pacar itu apa sih?" tanyaku lagi. "Pacar itu temen yang paling kita sayang," Novel menjawab seadanya.

Saat masuk TK, Novel menambah satu lagi pacar. Namanya Icha, dia teman sekelas Novel. Menurut Novel, Icha ini banyak disukai teman-temannya. Menurut Mama Icha, Ahmad sering mendekati Icha dan langsung mengelus pipi Icha. Ya jelas saja, Icha jadi risih. Ketika dikonfirmasi ke gurunya, gurunya malah tidak tahu sama sekali. Di buku menulis Arab-nya, Novel menulis: Reza pacar Icha. Gurunya memberi 4 tanda tanya dengan spidol dan menunjukkannya pada Ayah. Kami pun tertawa ga jelas lagi.

Karena mendengar cerita Nabi Muhammad yang keren banget, Novel pun mengutarakan keinginannya untuk jadi seperti Nabi Muhammad yang sabar luar biasa. "Tapi kan Nabi Muhammad ga pernah pacaran," pancingku suatu hari. "Kalo ga pacaran, gimana kita mo nikah, hayyyyoooo..." we.....dapat pemikiran dari mana klo nikah wajib pacaran dulu? "Tapi Nabi Muhammad nikah ga pake pacaran tuuuuhhh..." jawabku. Dia diam saja. Tidak tahu apakah sedang mencerna kata-kataku atau malah bingung.

Hingga akhirnya tadi malam Novel menanyakan pertanyaan ini, "Pacaran itu sebenarnya apa sih, Bu?" Ga tahu musti jawab apa, "Pacaran itu sebenarnya tidak disukai oleh Allah."
"Kenapa?"
"Karena pacaran itu dekat dengan dosa, dekat dengan setan."
"Kenapa?"
"Karena Allah menyuruh kita menikah, daripada pacaran, lebih baik nikah aja."
"Kenapa kalo orang pacaran itu selalu sayang sama cowoknya?"
"Karena Allah menciptakan rasa sayang itu, dan rasa sayang itu seharusnya diungkapkan setelah menikah," ya ampun...kayanya bahasa berat banget nih...Novel ngerti ga ya...?
"Emang pacaran itu apa sih?"
Nah..yang ini aku bener-bener bingung jawabnya, "Pacaran itu berdua-duaan dengan orang yang bukan muhrimnya." Makin berat aja bahasanya....tolong aku ya Allah.
"Muhrim itu apa?"
"Muhrim itu orang yang tidak boleh dinikahi, seperti Ibu sama Novel, itu muhrim. Kalo Ibu tidur sekamar sama Novel ga pa-pa. Tapi kalo sama Ocha ga boleh, Ocha bukan muhrimnya Novel." Tuing tuing tuing....ngerti ga nih Novelnya....?
"Kenapa? Malu?"
"Ya. Malu!" yah jawaban simpel aja dulu. Malu. Ga salah juga kan? Kalo tidak salah ada hadis yang bilang, "Jika kamu khawatir perbuatanmu diketahui orang, maka itu adalah dosa." Khawatir perbuatan diketahui orang kan disebut "malu" juga.

Malam itu, percakapan kami berhenti sampai di situ. Novel sudah menguap berkali-kali dan matanya sudah sayu. Entah apalagi yang dipikirkannya sebelum tidur....
Menunggu pertanyaan Novel selanjutnya....