Selasa, 05 Juni 2012

Penampilan Perdana Nufail Rizqy Majid

25 Mei 2012 yang lalu Ami Iim tujuh bulanan sekaligus menempati rumah kontrakan baru di Pondok Kelapa. Hari itu diadakan acara tasyakuran kecil-kecilan sekaligus secara resmi memperkenalkan diri kepada para tetangga di sana. Yang datang hanya keluarga-keluarga dekat, Tante Yah dan Ayie dari Pondok Bambu, Tante Nung dan Om Yan yang terhitung tetangga deket banget, bahkan Om Yan langsung meluncur dari Purwokerto tanpa ganti baju dulu. Serta yang sudah pasti adalah Umi dan Buya sang Empunya Acara yang sudah sibuk sejak sore hari...

Acara yang biasa-biasa itu terasa istimewa karena di situ Novel pertama kali tampil di muka umum. Novel didapuk oleh Umi selaku penanggung jawab acara, untuk membacakan Alqur'an, surat Luqman yang sudah dilatih selama sebulan ini. Alhamdulillah, Novel dapat menunaikan tugas dengan baik. Terharu mendengarkan Novel membaca Alqur'an dengan lancar dan tajwid yang bisa dibilang benar semua, kecuali huruf "ra" yang masih agak cadel diucapkan. Cium sayang dari Ayah dan Ibu buat Novel, semoga Novel menjadi anak yang sholeh dan bisa bermanfaat bagi orang lain....amiiinnn

Jumat, 25 Mei 2012

Kesetaraan Gender (Oh, Really?)

Ngomongin kesetaraan gender mengingatkanku pada dua anakku. Anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan. Anakku yang pertama sudah berusia 3,5 tahun ketika adik perempuannya lahir. Pada usia itu produksi testosteron meningkat sehingga ia menyukai permainan-permainan "lelaki". Jujur, aku sama sekali tidak pernah mengkhususkannya atau mewajibkannya hanya boleh main tembak-tembakan atau berantem-beranteman. Jika sebelum usia 3 tahun film kesukaannya adalah Dora, Barney, dan Diego, setelah 3 tahunan ia mulai melirik Ben 10, Power Rangers, Ultraman, dan serial aksi lainnya. Permainannya pun beralih ke pistol-pistolan, mobil-mobilan, dan bola.

Logikanya, sang adik tentu akan ikutan main mainan yang dimainkan abangnya. Dan kenyataannya.....ya! Anda benar, Raysa juga suka main mobil-mobilan, tembak-tembakan, atau tinju-tinjuan. Tapi itu lebih disebabkan karena ikut-ikutan sang Abang daripada inisiatif sendiri.

Bobo sama Bola
Yang menarik adalah, mainan favorit Raysa tetaplah anak-anakan atau masak-masakan. Raysa tidak terlalu suka boneka yang bentuknya mirip manusia. Ia lebih menyukai boneka yang bentuknya seperti binatang, boneka beruang, boneka tazmania, atau boneka timmy. Yang paling menarik adalah ia menjadikan mobil-mobilan pun buat main anak-anakan. Mobil truk besar milik Mas Novel digendong-gendong kesana kemari, dininabobokan layaknya bayi kecil, bahkan disuapi dengan makan yang ia racik sendiri (pura-pura pastinya). Bahkan piala Mas Novel pun rusak di tangan Raysa karena digendong-gendong layaknya anak bayi.

Permainan yang sifatnya pengasuhan ini tidak begitu disukai Novel, anak lelakiku. Dia lebih menyukai permainan yang menuntut aktivitas fisik yang banyak, main bola, lari-lari, main sepeda adalah pilihannya. Tidak mengherankan karena produksi testosteronnya yang sedang meningkat menuntut penyaluran energi yang banyak.

Dari sini terlihatlah bedanya, walaupun dibesarkan di lingkungan yang relatif sama oleh orangtua yang juga sama, tapi hasilnya tetap berbeda karena bagaimana pun laki-laki dan perempuan tetap berbeda.

Dari situ aku mengambil kesimpulan bahwa anak laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Perbedaan ini adalah fitrah manusia yang memang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT. Usaha penyamarataan kedua gender ini sama saja dengan merusak fitrah itu sendiri.

Selasa, 22 Mei 2012

Yuk, Dek...Mandi Yuk...

Hari itu hari yang melelahkan. Sampai di rumah jam 12-an, Raysa sedang tidur dan Novel sedang makan. Rasanya ingin sekali lekas-lekas tidur. Setelah Novel selesai makan dan aku pun selesai sholat, akhirnya kasur pun jadi tempat berlabuh. Tapi Novel masih belum ingin tidur. Kunci pintu, matikan TV, dan Novel pun main sendiri di ruang tengah.

Tiba-tiba samar-samar aku mendengar suara, "Ibu, Dede udah bangun, trus disuruh ngapain? Mandi ya?" Antara tidur dan terjaga aku diam saja. Lamat-lamat terdengar suara jebar-jebur di kamar mandi. Apakah Novel benar-benar memandikan Raysa?

Aku sudah terbangun secara utuh saat Raysa selesai mandi. Dengan riangnya ia bercerita bahwa ia sudah mandi dengan Mas Novel, maksudnya Mas Novel yang memandikan Raysa. Wow! Mas Novel juga menyikat gigi Raysa, dan Raysa tidak menolak. Hebat Mas Novel!

Kupilihkan pakaian untuk Raysa dan memakaikannya. Alhamdulillah, Novel sudah besar, bahkan sudah bisa memandikan Raysa....luar biasa. Yang paling luar biasa, itu dilakukannya atas inisiatif sendiri! Hebat yah Mas Novel...kerja ibu bisa makin ringan nihhh....

Aku pun keluar kamar hendak cuci muka, "Hah? baru jam 2?" berarti Raysa mandi siang dong....hahaha...sampai di kamar mandi aku lebih terkejut lagi...sabun mandi masih di tempat sabun yang tidak terjangkau oleh Novel...berarti..."Mas, tadi Raysa mandinya ga sabunan?" Novel nyengir...."Tapi kita kasih shampoo..." hahaha...shampoo buat badan....boleh juga....